FGD Kajian Banjir Mamminasata – Sulawesi Selatan
oleh : Wakil Dekan Akademik FITB : Dr. Rusmawan Suwarman
Pada hari Selasa, 24 Februari 2026, FITB berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait kajian banjir di kawasan Mamminasata yang diselenggarakan oleh Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar. Kegiatan bertempat di Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan. Agenda FGD mencakup diseminasi hasil kajian mengenai dinamika pola hujan dan perubahan penggunaan lahan serta implikasinya terhadap probabilitas kejadian banjir di kawasan perkotaan Mamminasata, diskusi untuk memperoleh masukan teknis dan perspektif kebijakan dari instansi terkait, serta penguatan sinergi lintas sektor dalam perencanaan wilayah yang adaptif terhadap risiko hidrometeorologis.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Riset Equity ITB DRI 2025: Kajian Banjir Mamminasata, yang juga menjadi bagian dari riset equity yang didukung pendanaan LPDP. Dalam forum tersebut, Dr. Rusmawan Suwarman dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer FITB ITB membuka sesi paparan melalui presentasi Kajian Banjir Mamminasata. Presentasi ini menekankan bahwa Mamminasata merupakan kawasan terintegrasi yang sangat dipengaruhi interaksi hulu–hilir daerah aliran sungai, sehingga persoalan banjir perlu dipahami secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi curah hujan, tetapi juga dari dinamika penggunaan lahan dan respons hidrologi kawasan. Arah kajian ini juga ditujukan untuk mendukung penguatan evaluasi kapasitas sungai dan drainase, sistem peringatan dini, serta perencanaan wilayah yang lebih adaptif.
Paparan berikutnya disampaikan oleh Munajat Nursaputra, Mahasiswa Doktoral di Program Studi Sains Kebumian, dengan judul “Penilaian Probabilitas Banjir Berbasis Perubahan Pola Spatial-Temporal Hujan dan Penggunaan Lahan di Kawasan Perkotaan Mamminasata.” Dalam paparannya, disampaikan bahwa tidak semua kejadian hujan menghasilkan dampak banjir yang sama. Distribusi lokasi hujan, baik di hulu maupun di hilir, serta akumulasi hujan beberapa hari sebelumnya, berpengaruh besar terhadap besarnya debit sungai dan potensi genangan. Kajian ini juga menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan di kawasan Mamminasata, khususnya peningkatan lahan terbangun, ikut memperbesar sensitivitas respons hidrologi pada beberapa DAS, terutama di wilayah tengah dan hilir. Karena itu, penilaian bahaya banjir perlu mempertimbangkan keterkaitan antara pola spasial-temporal hujan dan perubahan penggunaan lahan secara bersamaan.
FGD ini juga menjadi forum penting untuk mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan praktis pemerintah daerah. Daftar undangan menunjukkan keterlibatan berbagai perangkat daerah dari tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di kawasan Mamminasata, termasuk unsur yang membidangi tata ruang, kebencanaan, lingkungan hidup, pekerjaan umum, dan perencanaan pembangunan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai forum diseminasi hasil riset, tetapi juga sebagai ruang dialog untuk mendorong sinergi antarsektor dalam penguatan kebijakan pengelolaan banjir perkotaan yang lebih berbasis data dan lebih responsif terhadap perubahan lingkungan.
Pelaksanaan FGD turut dihadiri oleh tim FITB ITB dari berbagai bidang keahlian. Di acara ini, hadir pula Dr. Andri Hernandi, S.T., M.T. dari Kelompok Keahlian Sistem Spasial dan Kadaster, Dr. Eng. Aditya Rakhmat Kartadikaria, S.Si., M.Eng. sebagai Ketua Program Studi Doktor Sains Kebumian sekaligus anggota KK Oseanografi, Dr. Eng. Very Susanto, S.T., M.T. dari KK Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia, serta Winasti Mahatmya, A.Md. selaku Laboran Meteorologi Terapan FITB ITB. Kehadiran dosen dan tenaga kependidikan dari lintas bidang ini memperlihatkan bahwa isu banjir perkotaan di Mamminasata memang memerlukan pendekatan multidisiplin, yang menggabungkan perspektif atmosfer, oseanografi, geospasial, geologi, dan dukungan laboratorium secara terpadu.
Melalui keterlibatan dalam FGD ini, FITB ITB menegaskan komitmennya untuk menghadirkan riset yang tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi penguatan kebijakan publik dan perencanaan wilayah. Kajian banjir Mamminasata diharapkan dapat menjadi salah satu landasan ilmiah untuk mendukung pengelolaan risiko banjir yang lebih adaptif, terukur, dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.
