Mewujudkan Kampus Inspiratif: Fondasi dan Kolaborasi untuk ITB Berkelas Dunia
Mewujudkan Kampus Inspiratif: Fondasi dan Kolaborasi untuk ITB Berkelas Dunia
Intisari Arahan Rektor dan para Wakil Rektor dalam Pertemuan Awal Semester I 2025/2026 di Aula Barat pada tanggal 27 Agustus 2025
Oleh: Dekanat FITB (Dr. Dudy Darmawan Wijaya, Dr. Rusmawan Suwarman, dan Dr. Dasapta Erwin Irawan)
Ringkasan: ITB berfokus pada peningkatan jumlah mahasiswa S3 dan kolaborasi riset internasional untuk meningkatkan reputasi global. Transformasi menjadi universitas generasi keempat memerlukan kepemimpinan yang mendukung, alokasi anggaran yang efektif, dan kualitas sumber daya manusia yang setara dengan standar dunia. Kerja sama institusional yang berkelanjutan dan kolaboratif akan menjadi kunci untuk mencapai visi ini.
Dalam perjalanan transformasi menuju universitas kelas dunia, Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah merumuskan strategi komprehensif yang berfokus pada penguatan fondasi akademik dan pengembangan kolaborasi. Visi ini dipaparkan dalam diskusi terbuka yang menyoroti langkah-langkah konkret untuk meningkatkan reputasi institusi di kancah global.
Prioritas Strategis: Mahasiswa Doktoral dan Riset Kolaboratif
Untuk mendorong reputasi ITB ke jenjang yang lebih tinggi, dua prioritas utama telah diidentifikasi. Pertama, peningkatan kuantitas mahasiswa program doktoral (S3) yang signifikan. Kedua, penguatan kualitas riset doktoral melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional.

Photo by Drew Beamer on Unsplash
Selain itu, sangat penting untuk membangun dan mengembangkan grup riset yang riil dan substantif, bukan grup riset yang hanya bersifat formalitas atau dibentuk semata-mata untuk menambah nama atau mengumpulkan sitasi. Belakangan ini, berbagai lembaga internasional telah mengidentifikasi banyak misconduct atau pelanggaran etika riset berupa praktik “nebeng nama” atau “nebeng sitasi” yang merusak integritas akademik. Grup riset yang autentik harus memiliki agenda riset yang jelas, kolaborasi aktif antar anggota, dan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan populasi dosen sekitar 800 orang, disadari bahwa tidak semua dosen/peneliti dapat menjadi penulis yang baik, tetapi dengan 800 orang dosen/peneliti produktif, maka bila setiap orang dapat memiliki lima orang mahasiswa S3, maka diharapkan produktivitas jurnal bereputasi internasional akan meningkat, dan pada akhirnya jumlah sitasi dan H-index dosen/peneliti dapat meningkat pula. Perlu dicatat bahwa walaupun H-index sering disebut, tetapi itu bukan tujuan. H-index adalah salah satu dampak saja dari kualitas riset.
Menuju Universitas Generasi Keempat
ITB berkomitmen untuk bertransformasi menjadi universitas generasi keempat yang ditandai dengan empat karakteristik utama yang saling terintegrasi dan mendukung satu sama lain untuk menciptakan ekosistem akademik yang komprehensif:
- Keunggulan dalam implementasi tridarma perguruan tinggi yang mencakup pendidikan berkualitas tinggi, riset inovatif, dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas
- Layanan kepakaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, industri, dan pemerintah, serta mampu menjawab tantangan nasional maupun global
- Kemampuan menciptakan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan melalui transfer pengetahuan, inovasi teknologi, dan solusi kreatif untuk permasalahan kompleks
- Atmosfer akademik yang unggul dan mendukung kreativitas, kebebasan berpikir, kolaborasi lintas disiplin, dan pertukaran ide yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan
Transformasi ini memerlukan pendekatan kepemimpinan yang berbeda dan lebih adaptif, di mana pimpinan tidak lagi berperan sebagai pengendali hierarkis dari atas, melainkan sebagai fasilitator yang mendukung dari bawah dengan memberikan ruang gerak, sumber daya, dan panduan strategis. Fakultas diposisikan sebagai ujung tombak institusi yang memiliki otonomi akademik dan operasional dengan dukungan penuh dari jajaran pimpinan untuk mewujudkan inisiatif-inisiatif inovatif yang selaras dengan visi institusi.
Alokasi Anggaran dan Tantangan Implementasi
Komitmen ITB terhadap peningkatan peringkat dunia dibuktikan dengan alokasi anggaran yang signifikan sebesar 75 miliar rupiah. Dana substansial ini secara khusus diarahkan untuk mendukung berbagai program strategis dan inisiatif transformatif yang berpotensi mendorong posisi ITB ke jajaran 150 universitas terbaik dunia. Alokasi anggaran ini mencerminkan keseriusan institusi dalam memprioritaskan upaya peningkatan kualitas akademik dan riset di tingkat global.
Namun, tantangan utama yang dihadapi bukan hanya pada besaran anggaran, melainkan pada efektivitas penyerapan dan pemanfaatan anggaran tersebut. Tantangan ini mencakup aspek perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi penggunaan dana. Pertanyaan kritis yang muncul adalah bagaimana memastikan dana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, tepat sasaran, dan berkelanjutan untuk mencapai target yang diharapkan. Hal ini memerlukan sistem pengelolaan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada hasil konkret yang terukur.
Peran Kritis Sumber Daya Manusia
Keberhasilan transformasi ITB tidak hanya bergantung pada dosen dan mahasiswa, tetapi juga pada kualitas tenaga kependidikan. Untuk menjadi universitas kelas dunia, ITB membutuhkan tenaga kependidikan dengan kompetensi, etos kerja, dan pola pikir yang setara dengan standar global.
Tantangan penting lainnya adalah kejelasan pembagian tugas dan fungsi dosen dalam menghadapi beban tridarma yang semakin kompleks. Diperlukan batasan yang jelas agar dosen dapat mengoptimalkan kontribusi mereka tanpa terbebani tugas administratif berlebihan. Sebagai pendukung penting, tenaga kependidikan (tendik) juga harus memiliki kualitas setara standar World Class University — tendik yang berdedikasi, berkompeten, dan berorientasi pada pelayanan prima. Untuk mencapai itu, berbagai instrumen berkaitan dengan karir tendik perlu dan sedang disiapkan.
Langkah ke Depan
Transformasi ITB menuju universitas kelas dunia merupakan perjalanan kompleks yang membutuhkan komitmen mendalam dan kolaborasi sinergis dari seluruh komponen sivitas akademika. Proses ini bukan hanya tentang pencapaian target peringkat, tetapi juga pembentukan identitas institusional yang kokoh dan berkelanjutan. Kepemimpinan yang tidak segan turun langsung ke lapangan untuk memahami dinamika dan tantangan riil, kejelasan distribusi fungsi dan peran yang memungkinkan optimalisasi kontribusi setiap individu (dosen, tendik, mahasiswa), serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang terencana dan berkelanjutan menjadi tiga pilar utama yang menentukan keberhasilan transformasi ini.
Penting untuk menekankan bahwa kerja sama dengan mitra adalah kerja sama institusional yang bermanfaat untuk seluruh sivitas akademika ITB, bukan hanya untuk kepentingan individual. Kolaborasi semacam ini harus didasarkan pada visi bersama yang mendukung pengembangan institusi secara keseluruhan, menciptakan ekosistem yang memungkinkan pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan keahlian secara merata dan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap bentuk kerja sama harus dirancang dengan mempertimbangkan dampak luas terhadap kemajuan institusi dan memprioritaskan manfaat kolektif di atas kepentingan pribadi.
Dengan fondasi institusional yang kuat, didukung oleh sistem tata kelola yang baik, dan kolaborasi yang terarah antara berbagai pemangku kepentingan internal maupun eksternal, ITB memiliki potensi besar untuk mewujudkan visinya sebagai kampus yang tidak hanya mencapai keunggulan akademis dan penelitian, tetapi juga mampu menjadi katalisator dan sumber inspirasi bagi perubahan positif yang berdampak luas di tingkat nasional, regional, maupun global. Transformasi ini bukan semata-mata tentang peningkatan metrik dan peringkat, melainkan tentang bagaimana ITB dapat berkontribusi secara bermakna dalam memecahkan tantangan kompleks yang dihadapi masyarakat dan menjadi model institusi pendidikan tinggi yang relevan di era disrupsi.
Hits: 2
No Comments