ITB (and Friends) Mengerek Kurva Mutu Bangsa
Profil Fasilitator
Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, M.Sc., Ph.D. (SSB) merupakan alumni ITB yang meraih gelar Ph.D. dari University of California, Berkeley. Ia pernah menjadi dosen Teknik Mesin ITB, tercatat sebagai guru besar purnabakti FTMD ITB, serta menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada 1999–2007. Pada awal 2025, ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam pelantikan Rektor ITB 2025, ia juga menegaskan harapannya agar ITB tumbuh menjadi perguruan tinggi kelas dunia yang unggul sekaligus tetap mandiri.
ITB (and Friends) Mengerek Kurva Mutu Bangsa
Oleh: Dr. Rusmawan Suwarman (WDA FITB 2025-2030)
Di awal April, saya berkesempatan mengikuti workshop “Kepemimpinan dan Transformasi Perguruan Tinggi Berdampak.” Dalam workshop tersebut, ada satu slide dari Pak SSB yang sangat membekas di benak saya. Slide itu menggambarkan bahwa kurva kualitas tidak pernah benar-benar merata. Ada yang berada di tengah, ada yang di kiri, dan ada pula yang sudah melaju jauh ke kanan. Sementara itu, aturan umumnya hadir untuk menjawab wilayah yang paling umum, common case, atau kualitas yang paling sering ditemui.

Lalu muncul pertanyaan penting: jika aturan terutama dirancang untuk mayoritas, bagaimana dengan institusi yang sudah berada di area ekstrem dalam kualitas? Apakah mereka cukup diperlakukan sebagai pengecualian yang dibiarkan berjalan sendiri? Atau justru mereka memikul tanggung jawab yang lebih besar, yaitu “menggerek” keseluruhan kurva mutu bangsa agar bergeser ke kanan?
Bagi saya, pembicaraan tentang transformasi perguruan tinggi menjadi sangat menarik. Mutu tidak bisa hanya dipahami sebagai pencapaian individu atau satu institusi semata. Kita tidak bisa terus bergantung pada lahirnya orang-orang hebat yang sesekali mampu menembus batas. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah kekuatan institusi. Bahkan lebih dari itu, kekuatan antarinstitusi. Sebab yang benar-benar mampu mengubah bangsa bukan hanya kehadiran individu luar biasa, tetapi kemampuan sistem untuk membuat keunggulan itu berulang, menular, dan akhirnya menjadi kebiasaan baru.

Universitas-universitas gajah “mengerek” kualitas bangsa (Generated by AI)
Karena itu, kurva yang saya bayangkan bukan sekadar kurva yang menunjukkan posisi kualitas dan ruang lingkup aturan. Kurva itu harus bisa bergeser. Apa yang dulu dianggap sangat unggul, lama-kelamaan perlu menjadi standar baru. Apa yang dulu terasa elitis, seharusnya perlahan menjadi praktik yang umum. Apa yang tadinya hanya mungkin dilakukan oleh segelintir kampus, semestinya berkembang menjadi budaya akademik nasional. Jadi fokusnya bukan sekadar siapa yang berada paling kanan, melainkan seberapa besar kemampuannya untuk menarik seluruh distribusi kualitas ikut bergerak ke kanan.
Dalam konteks ini, kampus-kampus besar seperti ITB, UI, UGM, dan universitas kuat lainnya tidak cukup hanya berbangga sebagai outlier. Mereka harus menjadi lokomotif. Mereka perlu menciptakan tarikan institusional yang nyata. Tarikan itu bisa hadir dalam bentuk standar akademik yang lebih tinggi, ekosistem riset yang lebih sehat, kolaborasi dosen dan mahasiswa lintas kampus, laboratorium bersama, tata kelola yang lebih adaptif, hingga keberanian merintis model baru yang nantinya bisa diadopsi oleh perguruan tinggi lain.
Pada titik ini, benturan dengan aturan dan kebijakan hampir pasti terjadi. Namun benturan tidak selalu berarti pembangkangan. Sering kali, itu justru menjadi tanda bahwa realitas di lapangan sudah bergerak lebih cepat daripada regulasi. Kampus yang ingin melompat biasanya terasa “terganjal” bukan karena salah arah, melainkan karena sistem belum sepenuhnya dirancang untuk menampung lompatan tersebut. Karena itu, tugas kepemimpinan perguruan tinggi bukan sekadar patuh pada aturan, tetapi juga peka membaca kapan sebuah aturan perlu ditafsirkan ulang, disesuaikan, atau bahkan diperbarui agar transformasi benar-benar dapat berlangsung.
Itulah sebabnya target seperti world class university atau masuk 100 besar dunia versi QS seharusnya tidak dibaca sebagai obsesi terhadap peringkat semata. Yang jauh lebih penting adalah makna di balik target tersebut. Sasaran seperti itu memaksa kampus membangun mutu secara sistemik, bukan kosmetik. Ia menuntut perbaikan dalam riset, reputasi akademik, jejaring internasional, kualitas dosen, kualitas mahasiswa, keluaran lulusan, hingga kultur institusi secara keseluruhan. Dan semua itu akan jauh lebih mungkin dicapai jika kampus-kampus di ekor kanan tidak bergerak sendirian.
Sebab ketika satu universitas maju sendiri, dunia hanya melihatnya sebagai pengecualian. Namun ketika beberapa universitas unggul bergerak bersama, dunia mulai melihat kapasitas sebuah bangsa. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah ITB bisa naik lebih tinggi. Pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa besar ITB, bersama “gajah-gajah” pendidikan tinggi Indonesia, mampu mengangkat lantai mutu nasional? Seberapa jauh mereka dapat membuat yang unggul menjadi wajar, yang dulu langka menjadi biasa, dan yang dulu mustahil menjadi mungkin?
Bagi saya, di situlah letak esensi perguruan tinggi yang berdampak. Bukan sekadar menghasilkan lulusan hebat atau publikasi yang melimpah, melainkan menciptakan pergeseran peradaban. Perguruan tinggi yang benar-benar besar bukan hanya yang mampu melesat sendiri ke kanan, tetapi yang sanggup menarik kurva kualitas bangsa ikut bergerak ke kanan bersamanya.

Gambar asli oleh penulis.
No Comments