Foraminifera sebagai perekam kedalaman dan lingkungan di laut Indonesia
Judul makalah Benthic foraminiferal assemblages as proxies for paleoenvironmental indicators in the Indo-Pacific (Indonesia)
Penulis makalah Ria Fitriany; Khoiril Anwar Maryunani; Purna Sulastya Putra; Septriono Hari Nugroho; dan Sri Ardhyastuti.
Kerjasama antara Geological Engineering Study Program, Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung dan Research Center for Geological Disaster National Research and Innovation Agency.
Penulis blogpost Dasapta Erwin Irawan
SDG terkait SDG 4, SDG 9, SDG 13, SDG 14,SDG 19.
Penelitian ini oleh Maryunani dkk (2026) ini memperlihatkan bahwa cangkang foraminifera yang tersimpan di sedimen dasar laut Indonesia merekam perubahan kedalaman dan kondisi lingkungan secara teratur. Karena itu, foraminifera dapat dipakai sebagai “alat ukur” paleo-lingkungan yang lebih tepat untuk kawasan Indo-Pasifik tropis, bukan sekadar mengandalkan model kalibrasi dari Atlantik atau Mediterania.
Untuk membangun kalibrasi lokal tersebut, tim peneliti mengumpulkan 35 sampel sedimen permukaan dari beragam perairan Indonesia, mencakup gradien dari zona sangat dangkal di dekat pantai hingga cekungan laut dalam sekitar 4300 m. Dari setiap sampel, mereka menghitung dan mengidentifikasi foraminifera bentik dan planktonik, mengukur ukuran butir sedimen, lalu menilai pola komunitas menggunakan beberapa pendekatan statistik seperti cluster analysis, DCA, PCA, dan analisis nilai indikator (IndVal).
Temuan kunci pertama adalah hubungan yang sangat jelas antara kedalaman dan persentase foraminifera planktonik terhadap total fauna (%P). Nilai %P meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya kedalaman dengan ketelitian tinggi (R² sekitar 0,86). Di zona transisional dekat pantai, %P hampir nol, sedangkan di batial bawah dapat melampaui 90 persen. Hubungan ini menghasilkan persamaan empirik yang dapat langsung dipakai untuk memperkirakan kedalaman purba dari sedimen fosil di laut Indonesia.
Temuan kedua memperlihatkan bahwa respons ekologi bentik tidak bersifat linier. Keanekaragaman foraminifera bentik tidak terus meningkat dengan kedalaman, melainkan mencapai puncak di zona neritik tengah (sekitar puluhan meter hingga kurang lebih 100 m) dan kemudian menurun ke arah laut dalam. Sebaliknya, keanekaragaman foraminifera planktonik justru cenderung terus meningkat dengan kedalaman. Pola ini menyiratkan adanya zona optimum ekologis bagi komunitas bentik di landas kontinen, diapit oleh tekanan lingkungan pantai yang berenergi tinggi dan keterbatasan oksigen, tekanan, serta pasokan makanan di laut dalam.
Kontribusi paling penting dari studi ini adalah penyusunan paket taksa indikator untuk enam zona batimetri, yaitu transisional, neritik dalam, neritik tengah, neritik luar, batial atas, dan batial bawah. Contohnya, foraminifera besar seperti Amphistegina dan Sphaerogypsina menandai lingkungan transisional berenergi tinggi dan sering merupakan hasil transport dari habitat neritik. Kombinasi Ammonia–Asterorotalia–Elphidium mencirikan neritik dalam, Quinqueloculina dan Pseudorotalia mencirikan neritik tengah, sedangkan Brizalina, Gyroidina, dan Cibicides menandai neritik luar. Di batial atas dan bawah, taksa seperti Uvigerina, Bulimina, Globobulimina, Lenticulina, dan Hyalinea lebih dominan, selaras dengan kondisi oksigen rendah dan fluks bahan organik tinggi. Yang penting, setiap zona tidak hanya dibedakan oleh daftar spesies, tetapi juga oleh karakter sedimen (pasir, lanau, lumpur) dan besaran %P.
Dari sisi mekanisme, hasil ini ditafsirkan menggunakan kerangka TROX, yakni model yang menjelaskan bahwa komposisi foraminifera bentik terutama dikendalikan oleh dua penggerak utama: TR (trophic resources) berupa ketersediaan makanan atau fluks bahan organik ke dasar laut, dan OX (oxygen) berupa ketersediaan oksigen di dekat dasar dan di dalam pori sedimen. Dalam kerangka ini, komunitas bentik mencerminkan keseimbangan antara pasokan bahan organik yang mendukung kelimpahan fauna dan keterbatasan oksigen yang membatasi jenis taksa yang mampu bertahan. Karena itu, menuju perairan lebih dalam, pengendali komunitas cenderung bergeser dari faktor fisik menuju kombinasi faktor biogeokimia tersebut. Peralihan dominasi pengendali ini tampak mulai kuat di zona neritik luar dekat tepi landas kontinen dan berlanjut ke zona batial.
Secara praktis, makalah ini menyediakan kerangka kerja lokal yang kuat untuk rekonstruksi kedalaman dan kondisi lingkungan purba di perairan Indonesia melalui gabungan persamaan %P terhadap kedalaman dan indikator taksa per zona. Penulis juga menegaskan keterbatasan studi, terutama belum adanya pengukuran oksigen dan fluks karbon organik secara in situ, serta penggunaan assemblage total (hidup dan mati) tanpa pewarnaan Rose Bengal. Karena itu, mereka merekomendasikan studi lanjutan yang mengintegrasikan data geokimia kolom air dan sedimen, tracer biologis untuk memisahkan fauna hidup, serta kalibrasi mikrohabitat dalam sedimen, agar rekonstruksi paleobatimetrik dan paleoekologis di Indonesia menjadi makin presisi.
Berikut lima SDG yang paling terkait dengan penelitian ini (kalibrasi foraminifera untuk rekonstruksi kedalaman dan kondisi lingkungan laut Indonesia):
SDG 4 Pendidikan Berkualitas Menghasilkan kerangka kerja ilmiah lokal yang dapat dipakai untuk pengajaran, pelatihan, dan penguatan kapasitas riset (mikropaleontologi, oseanografi, geosains kuantitatif) di Indonesia.
SDG 9 Industri Inovasi dan Infrastruktur Menyediakan “alat” dan kalibrasi proxy yang meningkatkan kapasitas sains dan teknologi kebumian kelautan, termasuk dukungan pengetahuan dasar bagi survei kelautan, pemetaan lingkungan, dan pengembangan metode analitik.
SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim Rekonstruksi paleo-lingkungan dan paleo-oseanografi membantu memahami variabilitas iklim laut masa lalu sebagai konteks untuk perubahan iklim saat ini dan proyeksi ke depan.
SDG 14 Kehidupan Bawah Air Memperkuat pemahaman ekosistem laut, kondisi oksigenasi, dan dinamika material organik yang berdampak pada kesehatan lingkungan laut.
SDG 15 Ekosistem Daratan Meski fokusnya laut, temuan terkait suplai sedimen dan bahan organik dari darat ke laut (landas kontinen hingga laut dalam) relevan untuk konektivitas darat dan laut serta pengelolaan kawasan pesisir dan daerah aliran sungai.
No Comments