Enter your keyword

Dekanat FITB Menyapa 2026

Dekanat FITB Menyapa 2026

Dekanat FITB Menyapa 2026

Dekanat Menyapa: PPMI FITB 2026 DAN UPAYA MEMUTUS RANTAI “Tidak Ada Waktu”

PPMI FITB 2026 DAN UPAYA MEMUTUS RANTAI “Tidak Ada Waktu”

Transformasi Ekosistem Riset dan Menulis untuk Dosen FITB

Oleh: Dekanat FITB

Dalam rangkaian program Dekanat Menyapa, Dekanat FITB melakukan kunjungan ke 10 Kelompok Keilmuan/Keahlian (KK) dengan agenda utama menyampaikan Call for Proposal PPMI FITB 2026, memberikan update program-program Dekanat, dan membuka dialog langsung dengan dosen serta peneliti di masing-masing KK.

Dari serangkaian dialog produktif tersebut, muncul satu tema sentral yang terus berulang di hampir setiap diskusi: tantangan produktivitas menulis. Banyak dosen mengungkapkan keinginan kuat untuk menulis dan mempublikasikan karya, namun terkendala oleh keterbatasan waktu dan sistem kerja yang belum optimal. Artikel ini merangkum refleksi kami terhadap tantangan tersebut, sekaligus menawarkan perspektif baru tentang bagaimana kita dapat memutus lingkaran setan “tidak ada waktu” dan membangun ekosistem menulis yang lebih produktif di FITB.


Bagi seorang akademisi, menulis bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan urat nadi dari keberlanjutan riset. Namun, realita di lapangan seringkali berkata lain. Banyak dari kita terjebak dalam siklus “ingin menulis tapi terbentur waktu”. Jika kita tidak mengubah cara kita bergerak, kita akan selamanya terjebak dalam lingkaran setan yang menghambat produktivitas karya.

1. Lingkaran Setan Riset dan Dana

Kita semua paham rumusnya: Paper memerlukan Data, Data memerlukan Riset, dan Riset memerlukan Dana. Namun, pintu masuk dari seluruh rangkaian ini adalah Proposal. Masalahnya, proposal tidak akan terwujud tanpa aktivitas Menulis.

Tanpa tulisan, tidak ada dana. Tanpa dana, tidak ada riset. Tanpa riset, tidak ada publikasi. Inilah loop (lingkaran) yang harus kita putus. Kita perlu berhenti menjadikan “ketiadaan waktu” sebagai alasan, karena menulis seharusnya adalah pemicu awal, bukan hasil akhir yang dikerjakan jika ada sisa waktu.

2. Mengubah Paradigma: Menulis Tidak Harus Mengetik

Salah satu hambatan terbesar adalah persepsi bahwa menulis harus duduk di depan laptop dan mengetik dari layar kosong. Kita dapat menggunakan teknologi yang tepat untuk menggantikan aktivitas mengetik. Konversi Suara menjadi Teks.

Kegiatan paparan, diskusi kelas, diskusi riset, atau rekaman pemikiran saat menunggu dapat dikonversi menjadi raw text menggunakan fitur auto-caption (seperti di Teams atau Zoom). Jangan menunggu naskah sempurna; mulailah dengan naskah mentah yang kemudian bisa dipoles melalui:

  • Diskusi Tim: Untuk menajamkan substansi.
  • AI (Artificial Intelligence): Untuk curah gagasan (brainstorming) dan merapikan struktur bahasa.
  • Proofreader: Untuk memastikan tidak ada kesalahan penyuntingan, pengetikan, sekaligus mengupayakan agar tulisan lebih mengalir.

3. Peran Strategis: Dari Lektor hingga Guru Besar

Produktivitas bukan hanya beban individu, melainkan kerja kolektif. Ada pembagian peran yang jelas dalam ekosistem ini:

  • Dosen AA dan Lektor: Fokus pada penguatan data dan naskah pertama.
  • Dosen Lektor Kepala (Manusia Setengah GB – istilah Pak Dekan): Dapat berperan menguatkan analisis, sintesis, dan diskusi.
  • Guru Besar (GB): Dengan Ibu dan Bapak GB berperan sebagai Host, EO, dan Dirigen. GB harus mampu mengorganisasi tim riset dan memastikan grup riset berjalan secara harmonis. Ibu dan Bapak Guru Besar akan memastikan “orkestra” riset terus bermain. Jika GB tidak bergerak mengorganisasi, maka potensi tim akan redup.
  • Dalam diskusi dengan KK Geologi Terapan (KKGT), Prof. Deny Juanda juga menambahkan perspektif bahwa tugas dosen-dosen AA, L, dan LK adalah juga memperkaya khasanah pemikiran para GB. Interaksi dua arah harus terbina dengan baik.

4. Penutup

Menulis adalah keahlian utama yang harus dimiliki untuk tumbuh dan berkembang di dunia akademik. Kita tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna—karena waktu tersebut tidak akan pernah datang. Kita hanya perlu memanfaatkan teknologi (rekaman suara, AI) dan kolaborasi tim yang solid untuk memastikan setiap ide terdokumentasi menjadi karya.

Mari kita mulai menulis, dengan cara apa pun, mulai hari ini. Karena reputasi FITB tidak dibangun dari apa yang kita pikirkan, tetapi dari pemikiran yang berwujud dan dipublikasikan.

******
Salam
Rudi
Staf Sistem Informasi 

Hits: 1

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesia