Enter your keyword

FITB dalam Visi ITB MENUJU QS 150 DUNIA (Bagian ke-2)

FITB dalam Visi ITB MENUJU QS 150 DUNIA (Bagian ke-2)

FITB dalam Visi ITB MENUJU QS 150 DUNIA (Bagian ke-2)

FITB dalam Visi ITB MENUJU QS 150 DUNIA

Oleh: Dekanat FITB

Diperkaya dengan diskusi bersama dalam Acara Sinergi ITB 2030: Prof. Wahyu Srigutomo (FMIPA), Prof. Ari Widyanti (FTI), Dr. Puspita Dirgahayani (SAPPK), Dr. Dwi Irwanto (FMIPA)

Baca bagian ke-1.

Perjalanan ITB menuju peringkat QS di bawah 150 menuntut perubahan yang tidak lagi bersifat parsial, melainkan transformasi menyeluruh pada cara kampus memimpin, bekerja, dan mengelola dirinya sendiri. Transformasi ini bertumpu pada keberanian untuk merumuskan visi bersama yang realistis, memperkuat kepemimpinan transformatif, membangun budaya riset dan menulis yang disiplin, serta menata ulang sistem pendanaan, sarana prasarana, dan pengelolaan SDM secara terpadu.

Visi bersama dan kepemimpinan

Fondasi pertama adalah terciptanya visi bersama yang dipahami dan dihayati oleh seluruh sivitas akademika, bukan sekadar slogan di level pimpinan. Polarisasi antara kelompok yang pro dan kontra sering kali muncul karena sebagian warga kampus tidak melihat keterhubungan antara target QS<150 dengan realitas kerja mereka sehari‑hari. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan transformatif: pemimpin yang hadir untuk menunjukkan jalan, mengajak, dan mengangkat orang lain naik ke level kontribusi baru, bukan sekadar mengeluarkan instruksi dari kejauhan.

Komunikasi dan dinamika internal

Dalam situasi di mana terdapat memori kolektif tentang program ambisius yang dulu gagal, sikap defensif dan skeptis dari sebagian dosen dan tenaga kependidikan dapat dipahami. Mereka mencari pembenaran atau menjauh dari kewajiban karena tidak melihat “how‑to” yang konkret dan realistis. Untuk itu, dibutuhkan pola komunikasi bertingkat yang konsisten: dari rektor ke dekan, dari dekan ke ketua kelompok keahlian, hingga ke seluruh dosen dan mahasiswa, dengan penjelasan jujur tentang apa yang berbeda kali ini—baik dari segi desain program, dukungan sumber daya, maupun indikator keberhasilan yang terukur.

Pendanaan dan tata kelola riset

Transformasi juga menuntut pembenahan pendanaan dan tata kelola riset. Keterbatasan dana riset dari APBN dan dana internal yang belum memadai untuk riset multi‑tahun dan biaya APC jurnal membuat banyak inisiatif berhenti di tengah jalan. Di sisi lain, administrasi keuangan yang kaku dan birokrasi yang panjang menimbulkan bottleneck di berbagai level. Jawabannya bukan sekadar menuntut tambahan anggaran, tetapi mengupayakan peningkatan dana non‑APBN, melakukan telaah regulasi yang menghambat fleksibilitas, menguatkan kelompok keilmuan dan kolaborasi multidisiplin, mengembangkan skema industrial professorship, serta mentransformasi HRIS dan beban kerja dosen agar lebih mencerminkan kontribusi nyata dalam riset dan publikasi.

Sarana prasarana dan shared facilities

Di sisi sarana prasarana, keterbatasan alat laboratorium dan infrastruktur penelitian membuat kualitas dan kuantitas keluaran riset sulit ditingkatkan. Kondisi ini sering menimbulkan ketergantungan pada laboratorium mitra di luar kampus, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan posisi tawar institusi. Jalan keluarnya adalah investasi bertahap pada alat strategis melalui kombinasi dana APBN dan non‑APBN, penguatan skema shared facilities lintas fakultas/sekolah yang dikelola secara profesional, serta pemanfaatan dana fleksibel seperti FIS atau PNBP untuk upgrade peralatan yang langsung berkorelasi dengan klaster riset unggulan.

Kapasitas SDM, riset, dan publikasi

Pilar ketiga adalah penguatan kapasitas SDM dalam riset dan publikasi. Produktivitas publikasi dan sitasi yang masih rendah, minat menulis yang belum kuat, dan kecenderungan berhenti di tahap riset tanpa manuskrip menunjukkan bahwa ekosistem menulis ilmiah belum terbentuk secara utuh. Diperlukan kombinasi antara insentif yang benar‑benar memotivasi, tim khusus yang mengawal riset strategis, pelatihan dan refresher course menulis (termasuk sesi “diam dan menulis”), penyederhanaan proses penyelesaian S2–S3, serta perluasan skema thesis by publication yang dirancang realistis bagi berbagai program studi.

Integrasi tiga skema transformasi

Ketiga skema—pendanaan dan tata kelola riset, sarana prasarana dan shared facilities, serta SDM dan publikasi—tidak bisa berjalan sendiri‑sendiri jika ITB ingin menutup jurang antara posisi saat ini dan target QS<150. Transformasi birokrasi harus sejalan dengan penguatan infrastruktur riset dan pembentukan budaya menulis yang disiplin; keberhasilan di satu aspek akan melemah bila dua aspek lain tertinggal. Dengan kepemimpinan transformatif yang konsisten, visi bersama yang dihidupkan melalui komunikasi bertingkat, dan kebijakan riset yang terintegrasi dari hulu ke hilir, ITB memiliki peluang nyata untuk mengubah tekanan “world‑class university” menjadi agenda kolektif yang konkret dan dapat dicapai.

SINERGI-ITB-DES-2025

Baca bagian ke-1.

Hits: 6

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesia