Enter your keyword

Duduk dan Menulis

Duduk dan Menulis

Duduk dan Menulis

Duduk dan Menulis

Dudy D. Wijaya – FITB

Keresahan Pak Erwin (Wakil Dekan Sumberdaya/WDS) terhadap budaya menulis mendorong beliau membuat program “Duduk dan Menulis” (selanjutnya kita sebut DdM). Program ini berupaya memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalani proses berpikir-menulis secara diskursif untuk berbagai macam tujuan: untuk membuat proposal, laporan, paper, atau bahkan untuk membuat esai, cerpen dan sajak.

Uniknya, dalam setiap pertemuan, tidak ada target capaian tertentu dan tidak ada tekanan untuk mengejar hasil, yang paling penting ada usaha dari semua peserta program untuk menikmati proses berpikir-menulis. Meski demikian, bagi peserta yang sudah mematok target, mereka malah mendapatkan perhatian lebih untuk menghindari munculnya writer’s anxiety.

Program DdM biasanya dilaksanakan di ruang WDS atau di faculty lounge (dulunya ruang dekan) setiap hari sekitar pukul 8 hingga 12. Demi kenyamanan, konsumsi dan logistik selalu disiapkan untuk meredakan kejenuhan dan kebuntuan yang mungkin muncul.

Tentunya, sebagai dekan, saya sangat mengapresiasi ide Pak Erwin bukan saja karena akan menambah daftar kegiatan fakultas, namun karena alasan yang lebih jauh dari sekedar meramaikan fakultas. Dan, inilah alasan itu….

Sebuah Perlawanan

Bukan tanpa alasan Pak Erwin menerapkan aturan “tanpa-target, sing penting nikmat”. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan struktural-kultural beliau (baca: dekanat FITB) terhadap habitus akademik yang menekankan peningkatan capaian kerja secara teknokratis. Program DdM tidak dirancang untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, melainkan sebagai intervensi kultural-epistemik di FITB. Program ini bermula dari kesadaran bahwa krisis akademik tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya kompetensi dosen dan mahasiswa, melainkan oleh habitus akademik yang secara perlahan mengikis ruang berpikir reflektif.

Dalam program DdM kehadiran lebih penting daripada hasil, proses adalah hal yang utama daripada capaian, dan keheningan diperlakukan sebagai prasyarat bagi lahirnya pengetahuan. Dengan demikian, program ini dapat menjadi ruang yang bebas dari instrumentalisasi administratif, dan kemudian menjadi ruang untuk melawan habitus akademik secara non-konfrontatif yang mampu meneguhkan kembali hakikat dosen dan mahasiswa sebagai “insan yang berpikir” (thinking being), bukan semata sebagai “insan yang mengerjakan” (performing subject).

Perlu ditekankan, hal ini bukan berarti dekanat FITB abai terhadap peningkatan kinerja (kita sedang berjuang mewujudkan ITB QS150), namun kami juga menyadari bahwa tuntutan produktivitas, metrik luaran, dan administrasi akademik secara tidak disadari dapat menjadikan aktivitas berpikir-menulis menjadi sebuah kegiatan yang bersifat administratif-instrumentatif belaka, bukan sebagai praktik intelektual yang otentik. Kepada area inilah moncong perlawanan itu kami arahkan.

Program DdM memang merupakan bentuk perlawanan struktural-kultural, namun bukan dalam arti oposisi konfrontatif terhadap sistem, melainkan sebagai penggeseran logika dominan akademik melalui praktik institusional yang reflektif, kolegial, dan berkelanjutan.

Pemulihan Habitus

Habitus akademik yang berlaku saat ini mejadikan kampus sebagai arena tempat berkuasanya logika kompetisi dan reputasi. Dalam arena ini, habitus berpikir dan menulis reflektif sering tersingkirkan oleh birokratisasi riset, kompetisi publikasi, dan tekanan reputasional. Program DdM digagas sebagai mekanisme rehabilitasi habitus ini melalui sebuah pendekatan paradigmatik: aktivitas berpikir-menulis dipraktikkan sebagai kebiasaan tubuh dan pikiran, bukan untuk memenangkan kompetisi. Selain itu, program DdM berusaha untuk mengaktifkan kembali dimensi slow scholarship: berpikir pelan, reflektif, dan konseptual—sesuatu yang krusial dalam ilmu kebumian yang kompleks.

Pemilihan ruang dekanat sebagai markas kegiatan DdM merupakan upaya lain dalam proses pemulihan ini. Ruang dekanat yang memiliki simbol kontrol dan kekuasaan di-dekonstruksi dan di-reposisi menjadi ruang praksis bersama demi terwujudnya redistribusi makna simbolik, dimana semua dosen dan mahasiswa diperlakukan setara sebagai agen akademik dalam proses berpikir.

Dekonstruksi ruang dekanat dari ruang kekuasaan menjadi ruang praksis intelektual yang inklusif merupakan upaya memulihkan arena akademik dari habitus logika kompetisi menuju logika kolegialitas, dari logika reputasi menuju logika kebermaknaan.

Menjembatani Kinerja dan Kebermaknaan

Melalui program DdM ini, FITB menegaskan bahwa kepemimpinan akademik tidak hanya mengatur luaran, tetapi merawat kondisi yang memungkinan lahirnya pengetahuan. Perlu ditekankan kembali, program DdM bukan solusi instan atas persoalan akademik, melainkan tindakan simbolik dan praktis untuk menjaga agar FITB tetap menjadi ruang berpikir—bukan sekadar mesin produksi dokumen.

Cara pandang ini tidak menjadikan FITB abai terhadap peningkatan kinerja dan segudang target birokrasi. Justru sebaliknya, FITB memandang bahwa ketergantungan eksklusif pada instrumen kinerja tanpa pemulihan habitus berpikir akan menjadikan target reputasi bersifat rapuh dan jangka pendek.

Program DdM tidak dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap logika pencapaian kinerja, melainkan sebagai fondasi kultural yang memungkinkan kinerja tersebut dicapai tanpa mengorbankan integritas intelektual. Perlu ditegaskan, capaian reputasi internasional bukan diperlakukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai efek jangka panjang dari ekosistem akademik yang sehat, dimana berpikir dan menulis dipulihkan sebagai praktik reflektif, bukan sekadar kewajiban administratif.

Penutup

Aktivitas DdM akan diperluas dengan tambahan program pelayanan kapasitas bagi agen-agen akademik (dosen dan mahasiswa) untuk meningkatkan “kenikmatannya” dalam proses berpikir-menulis. Agenda-agenda kegiatan seperti pembekalan menulis proposal dan paper, technical writing clinic, serta refleksi kritis mengenai penggunaan AI secara bijak agar mendukung—bukan menggerus—eksistensi dan martabat kemanusiaan dalam praktik berpikir-menulis, maupun pembekalan yang bersifat filosofis-epistemik untuk membuka cakrawala berpikir ilmiah akan dilaksanakan. Untuk mewujudkan itu, dana sebesar Rp. 250 juta telah dikunci.

Selain itu, deretan ruang faculty lounge, ruang WDS dan WDA (Wakil Dekan Akademik) akan ditata ulang sehingga kita akan punya faculty lounge yang lebih luas dan nyaman untuk dihuni bersama. Sementara, ruang WDS dan WDA akan diperkecil dengan tetap menjaga kenyamanan mereka ketika bekerja.

Terakhir perlu dipahami, bahwa anggaran, ruang, dan program hanyalah sarana. Tujuan yang hendak diraih melalui kegiatan DdM adalah martabat berpikir itu sendiri, dan itu semua dilakukan demi mendukung perlawanan institusional untuk memulihkan habitus.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.


 

Sit and Write

Dudy D. Wijaya – FITB

Pak Erwin’s (Vice Dean for Resources/WDS) concern about the writing culture prompted him to create the “Sit and Write” program (hereinafter referred to as DdM). This program seeks to provide space for lecturers and students to engage in the discursive thinking-writing process for various purposes: to create proposals, reports, papers, or even to write essays, short stories, and poems.

Uniquely, in each session, there are no specific achievement targets and no pressure to pursue results; what matters most is that all program participants make an effort to enjoy the thinking-writing process. Nevertheless, for participants who have set targets, they actually receive more attention to avoid the emergence of writer’s anxiety.

The DdM program is usually held in the WDS room or faculty lounge (formerly the dean’s room) every day from around 8 AM to 12 PM. For comfort, refreshments and logistics are always provided to alleviate the fatigue and mental blocks that may arise.

Of course, as dean, I greatly appreciate Pak Erwin’s idea not only because it will add to the faculty’s list of activities, but for reasons that go far beyond simply enlivening the faculty. And here is that reason….

A Form of Resistance

It is not without reason that Pak Erwin implements the rule of “no targets, the important thing is enjoyment.” This is a form of his structural-cultural resistance (read: FITB deanery) against the academic habitus that emphasizes increased work achievement in a technocratic manner. The DdM program is not designed to increase the number of scientific publications, but rather as a cultural-epistemic intervention at FITB. This program stems from the awareness that the academic crisis is not solely caused by a lack of competence among lecturers and students, but by an academic habitus that gradually erodes the space for reflective thinking.

In the DdM program, presence is more important than results, process is paramount over achievement, and silence is treated as a prerequisite for the birth of knowledge. Thus, this program can become a space free from administrative instrumentalization, and then become a space to resist academic habitus non-confrontationally, capable of reaffirming the essence of lecturers and students as “thinking beings,” not merely as “performing subjects.”

It must be emphasized that this does not mean the FITB deanery is indifferent to performance improvement (we are striving to achieve ITB QS150), but we also recognize that demands for productivity, output metrics, and academic administration can unconsciously turn thinking-writing activities into merely administrative-instrumental activities, rather than authentic intellectual practice. It is toward this area that we direct our resistance.

The DdM program is indeed a form of structural-cultural resistance, but not in the sense of confrontational opposition to the system, but rather as a shift in the dominant academic logic through reflective, collegial, and sustainable institutional practice.

Habitus Restoration

The current academic habitus makes the campus an arena where the logic of competition and reputation prevails. In this arena, the habitus of reflective thinking and writing is often displaced by research bureaucratization, publication competition, and reputational pressure. The DdM program was conceived as a mechanism for rehabilitating this habitus through a paradigmatic approach: thinking-writing activities are practiced as habits of body and mind, not to win competitions. Additionally, the DdM program seeks to reactivate the dimension of slow scholarship: thinking slowly, reflectively, and conceptually—something crucial in the complex earth sciences.

The selection of the deanery space as the DdM activity headquarters is another effort in this restoration process. The deanery space, which holds symbols of control and power, is deconstructed and repositioned into a shared praxis space to achieve a redistribution of symbolic meaning, where all lecturers and students are treated equally as academic agents in the thinking process.

The deconstruction of the deanery space from a space of power into an inclusive intellectual praxis space is an effort to restore the academic arena from the habitus of competition logic toward the logic of collegiality, from the logic of reputation toward the logic of meaningfulness.

BRIDGING PERFORMANCE AND MEANINGFULNESSBridging Performance and Meaningfulness

Through the DdM program, FITB affirms that academic leadership does not only manage outputs, but nurtures the conditions that enable the birth of knowledge. It must be emphasized again that the DdM program is not an instant solution to academic problems, but rather a symbolic and practical action to ensure that FITB remains a space for thinking—not merely a document production machine.

This perspective does not make FITB indifferent to performance improvement and a host of bureaucratic targets. On the contrary, FITB views that exclusive dependence on performance instruments without restoring the thinking habitus will make reputation targets fragile and short-term.

The DdM program is not intended as a denial of the logic of performance achievement, but rather as a cultural foundation that enables such performance to be achieved without sacrificing intellectual integrity. It must be affirmed that international reputation achievement is not treated as a standalone goal, but as a long-term effect of a healthy academic ecosystem, where thinking and writing are restored as reflective practices, not merely administrative obligations.

Closing

DdM activities will be expanded with additional capacity-building programs for academic agents (lecturers and students) to increase their “enjoyment” in the thinking-writing process. Activity agendas such as training in writing proposals and papers, technical writing clinics, critical reflection on the wise use of AI so that it supports—rather than erodes—human existence and dignity in thinking-writing practices, as well as philosophical-epistemic training to broaden scientific thinking horizons will be implemented. To realize this, funds amounting to Rp. 250 million have been secured.

In addition, the series of faculty lounge rooms, WDS and WDA (Vice Dean for Academic Affairs) rooms will be redesigned so that we will have a faculty lounge that is more spacious and comfortable to inhabit together. Meanwhile, the WDS and WDA rooms will be made smaller while maintaining their comfort when working.

Finally, it must be understood that budget, space, and programs are merely means. The goal to be achieved through DdM activities is the dignity of thinking itself, and all of this is done to support institutional resistance to restore habitus.

For God, Nation, and Alma Mater.

Hits: 1

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesia