APA YANG AKAN TERJADI DENGAN SUHU DI IKN? PENELITIAN TERBARU MENJAWABNYA
Apa yang Akan Terjadi dengan Suhu di IKN? Penelitian Terbaru Menjawabnya
Oleh: Dasapta Erwin Irawan (WDS FITB)
Bayangkan Anda baru saja pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tahun 2050. Anda membuka jendela rumah di malam hari, berharap mendapat udara sejuk khas Kalimantan. Namun yang Anda rasakan adalah udara yang lebih hangat dari yang Anda bayangkan. Apakah ini yang akan terjadi di ibu kota baru kita?
Pertanyaan ini menjadi fokus penelitian penting yang baru saja dipublikasikan oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung dan berbagai institusi lainnya di jurnal ilmiah internasional Scientific Reports. Penelitian ini bukan sekadar prediksi, melainkan proyeksi ilmiah yang membantu kita memahami bagaimana pembangunan IKN dan perubahan iklim global akan memengaruhi suhu di ibu kota baru Indonesia. Hasilnya? Ada kabar baik dan ada yang perlu kita perhatikan bersama.

Mengapa Suhu di IKN Penting?
Indonesia tengah membangun ibu kota baru dari nol di tengah hutan Kalimantan. Berbeda dengan Jakarta yang berkembang secara organik selama berabad-abad, IKN dirancang sebagai kota pintar dan berkelanjutan dengan target net-zero emissions pada pertengahan abad ini. Desain ambisius ini menempatkan 84% wilayah IKN sebagai ruang hijau—angka yang fantastis jika dibandingkan dengan Jakarta yang hanya memiliki 4,65% ruang hijau.
Namun pertanyaannya: apakah desain hijau ini cukup untuk mengimbangi dua kekuatan besar yang akan meningkatkan suhu? Pertama, pembangunan kota itu sendiri—dengan gedung, jalan, dan infrastruktur yang menggantikan hutan. Kedua, pemanasan global yang sedang terjadi di seluruh dunia.
Studi ini penting karena IKN masih dalam tahap pembangunan. Artinya, kita masih punya kesempatan untuk menyesuaikan desain dan strategi pembangunan berdasarkan bukti ilmiah. Jakarta, misalnya, mengalami apa yang disebut “efek pulau panas perkotaan” yang sangat parah—hingga suhu di pusat kota bisa 5-7°C lebih panas dari daerah pinggiran. Penelitian ini membantu memastikan IKN tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Apa Itu “URBAN HEAT ISLAND”?
Sebelum masuk ke temuan utama, mari pahami dulu konsep penting: urban heat island atau “pulau panas perkotaan”. Bayangkan Anda berjalan di area perbelanjaan dengan aspal dan gedung beton di siang hari, lalu pindah ke taman dengan banyak pepohonan. Rasanya berbeda, bukan? Area dengan banyak bangunan dan sedikit vegetasi menyerap dan menyimpan panas lebih banyak, terutama di malam hari ketika beton dan aspal melepaskan panas yang tersimpan siang hari. Fenomena inilah yang disebut urban heat island—kota menjadi seperti “pulau” yang lebih panas dibanding area pedesaan di sekitarnya.
Penelitian ini menggunakan pemodelan iklim canggih untuk memproyeksikan suhu IKN hingga pertengahan abad ke-21. Tim peneliti mensimulasikan empat skenario: kondisi saat ini tanpa IKN, kondisi dengan IKN sepenuhnya terbangun, kondisi masa depan tanpa IKN (hanya pemanasan global), dan kondisi masa depan dengan IKN terbangun (kombinasi urbanisasi dan pemanasan global).
Hasilnya mengejutkan sekaligus menggembirakan. Pemanasan global ternyata memberikan dampak jauh lebih besar terhadap kenaikan suhu dibanding pembangunan kota itu sendiri. Secara spesifik:
- Urbanisasi IKN saja akan meningkatkan suhu sekitar 0,13-0,78°C, terutama di malam hari
- Pemanasan global akan meningkatkan suhu sekitar 1,24-1,90°C
- Kombinasi keduanya: 1,37-2,54°C pada pertengahan abad ini
Untuk memberi gambaran, kenaikan 2,5°C setara dengan perbedaan suhu antara Jakarta di bulan Juni dengan bulan Agustus—cukup terasa, terutama di malam hari. Yang menarik, dampak terbesar terjadi bukan di siang hari, melainkan di awal malam (sekitar pukul 18.00-21.00). Ini karena area perkotaan lebih lambat melepas panas yang diserap siang hari dibanding area berhutan.
Pulau panas perkotaan di IKN terpusat di bagian barat, tepatnya di area KIPP (pusat pemerintahan) dan KIKN (pusat kota), dengan intensitas sekitar 0,7°C lebih hangat dari area pedesaan sekitarnya. Angin dari selatan juga membawa udara panas ini sedikit ke utara, mempengaruhi desa-desa di sekitar IKN.

Kabar Baik: Desain Hijau IKN Memang Berhasil
Sebelum Anda khawatir berlebihan, inilah kabar baiknya: penelitian ini membuktikan bahwa desain hijau IKN memang efektif menekan dampak urbanisasi.
Perbandingan dengan kota lain di Indonesia sangat mencerahkan:
- Jakarta: hanya 4,65% ruang hijau, dampak urbanisasi sangat besar—bahkan melebihi dampak pemanasan global di beberapa area
- Balikpapan: 36,28% ruang hijau, mengalami urban heat island sekitar 1,5-2°C
- IKN: 84,14% ruang hijau (termasuk 67,75% area lindung), urban heat island hanya sekitar 0,7°C
Ini adalah pencapaian signifikan. Studi serupa di Jakarta menunjukkan bahwa dampak perubahan tata guna lahan bisa lebih besar dari pemanasan global—menandakan kegagalan perencanaan kota. Di IKN, situasinya terbalik: pemanasan global memberikan dampak lebih besar, yang berarti desain kota sudah cukup baik dalam memitigasi efek urbanisasi.
Namun ada catatan penting: 84% ruang hijau IKN sebagian besar berasal dari hutan terisolasi di bagian tengah (area KPIKN). Area pusat pemerintahan dan pusat kota (KIPP dan KIKN) tetap akan mengalami kenaikan suhu yang lebih signifikan karena konsentrasi bangunan lebih tinggi di sana.
Apa Artinya Bagi Kita?
Temuan ini punya implikasi praktis yang perlu diperhatikan:
Bagi calon warga IKN: Bersiaplah untuk suhu yang sedikit lebih hangat di malam hari, terutama jika Anda tinggal di area perkotaan (KIPP atau KIKN). Namun, dengan 84% ruang hijau, kualitas udara dan kenyamanan termal IKN tetap akan jauh lebih baik dibanding Jakarta atau kota-kota besar Indonesia lainnya.
Pentingnya ruang hijau dan biru: Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mempertahankan—bahkan menambah—ruang hijau (taman, hutan kota) dan ruang biru (danau, sungai, kanal) dalam perencanaan IKN. Studi terbaru bahkan menunjukkan bahwa memperluas blue-green spaces di area KIKN bisa mengurangi efek panas lebih jauh.
Dampak ke kota sekitar: Efek pulau panas IKN tidak berhenti di batas wilayah ibu kota. Desa-desa dan kota satelit di sekitar IKN—seperti Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara—juga akan terdampak, baik dari adveksi (perpindahan) udara panas maupun dari perkembangan kota-kota satelit itu sendiri. Perencanaan ruang hijau perlu dikoordinasikan lintas wilayah.
Strategi mitigasi konkret:
- Pertahankan target 84% ruang hijau dalam semua tahap pembangunan
- Tingkatkan vegetasi di area KIPP dan KIKN yang mengalami efek panas paling tinggi
- Manfaatkan solusi berbasis alam seperti taman kota, roof garden, dan koridor hijau
- Pertimbangkan strategi ventilasi kota dalam desain tata ruang mikro
- Monitor kondisi aktual dengan stasiun cuaca yang tersebar luas
Para peneliti juga menekankan pentingnya observasi lapangan. Model proyeksi ini, meskipun canggih, tetap perlu divalidasi dengan data pengukuran suhu riil di IKN dan sekitarnya.
Membangun Masa Depan IKN yang Lebih Sejuk
Penelitian ini memberikan kita sesuatu yang berharga: bukti ilmiah dan waktu untuk bertindak. IKN masih dalam pembangunan, dan kita punya kesempatan emas untuk memastikan ibu kota baru Indonesia tidak hanya indah dan modern, tetapi juga nyaman dan berkelanjutan.
Temuan bahwa dampak urbanisasi lebih kecil dari pemanasan global di IKN adalah validasi bahwa pendekatan hijau memang bekerja. Namun ini bukan saatnya untuk puas diri. Dengan proyeksi kenaikan suhu hingga 2,5°C pada pertengahan abad ini (kombinasi urbanisasi dan pemanasan global), diperlukan komitmen konsisten untuk mempertahankan—bahkan meningkatkan—standar hijau dalam setiap tahap pembangunan.
IKN punya potensi menjadi model kota tropis berkelanjutan yang bisa dicontoh negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun potensi itu hanya akan terwujud jika kita terus mendengarkan sains, melibatkan masyarakat, dan konsisten dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Masa depan IKN—dan kenyamanan generasi mendatang yang akan tinggal di sana—dimulai dari keputusan perencanaan yang kita buat hari ini.
Referensi: Abdillah, M.R., et al. (2025). “Urbanization and global warming impacts of Indonesia’s future capital of Nusantara on air temperature and urban heat island.” Scientific Reports, 15:41543. DOI: 10.1038/s41598-025-25500-8.
Hits: 3
No Comments