Smarter Geothermal Exploration: Reducing Risks with GIS
Smarter Geothermal Exploration: Reducing Risks with GIS
Oleh: Dasapta Erwin Irawan (WDS FITB)
(English Version)
Geothermal energy is one of the most promising sources of clean and renewable power. It offers a reliable alternative to fossil fuels and plays a crucial role in reducing carbon emissions. However, tapping into this resource is not as simple as it sounds. Drilling geothermal wells is an expensive and high-risk process. Each well can cost between five to eight million dollars, and in many cases, the success rate during early-stage exploration is less than fifty percent. This means millions of dollars can be lost if a well fails to produce enough steam or heat for power generation.

Why do these failures happen? The main reason is uncertainty. Beneath the surface, geothermal systems are complex. Identifying zones with high temperature and good permeability—the two key factors for a productive well—is challenging. Traditionally, drilling decisions have relied heavily on expert judgment. While expertise is valuable, this approach is subjective and difficult to replicate. It often leads to inconsistent results and wasted resources.
A recent study in the Kamojang Geothermal Field (KGF), West Java led by Dr. Suryantini (from Applied Geology Research Group FEST), offers a smarter solution. Researchers developed a systematic method using Geographic Information Systems (GIS) to improve drilling success. Instead of relying solely on intuition, they combined multiple types of geophysical data—such as electrical resistivity, gravity anomalies, and magnetic readings—into what they call “favorability maps.” These maps highlight areas with the highest probability of drilling success.
The process works by assigning weights to different datasets based on their relevance to productive wells. For example, Controlled Source Audio-frequency Magnetotellurics (CSAMT) data, which measures resistivity at greater depths, proved to be highly effective in identifying reservoir boundaries. Similarly, magnetic anomalies help locate heat sources, while gravity data and its horizontal gradient (HG) reveal structural features like faults that control fluid flow. By integrating these datasets through an Index Overlay Method (IOM), researchers created maps that rank zones from very high to very low favorability.
The results were impressive. One scenario, called FavMap2, which combined CSAMT, HG, and magnetic data, predicted successful wells with up to seventy-two percent accuracy. This is a significant improvement compared to traditional methods. The study also found that structural geology plays a major role in drilling success. Faults such as Kendeng, Citepus, and Pateungteung strongly influence permeability, making them critical targets for exploration.
Why does this matter? For Indonesia, which sits on the world’s largest geothermal potential, this approach could save millions of dollars and accelerate the transition to clean energy. By reducing drilling failures, developers can optimize resources and shorten project timelines. Moreover, the method is scalable. It can be applied to other geothermal fields, especially those in volcanic caldera settings similar to Kamojang.
Looking ahead, the study suggests practical steps for implementation. First, GIS-based analysis should become a standard tool in new geothermal projects. Second, local teams need training in data integration and spatial analysis to ensure accurate interpretation. Finally, combining this approach with modern technologies like machine learning could further enhance predictions, although this requires larger datasets and advanced computing resources.
Smarter geothermal exploration is not just a scientific breakthrough—it’s a practical solution for sustainable energy development. By leveraging data and technology, we can make drilling safer, cheaper, and more efficient, paving the way for a greener future.
Eksplorasi Panas Bumi yang Lebih Cerdas: Mengurangi Risiko dengan GIS
(Versi Bahasa Indonesia)
Energi panas bumi adalah salah satu sumber energi bersih yang paling menjanjikan. Energi ini dapat menjadi alternatif yang andal untuk menggantikan bahan bakar fosil dan membantu mengurangi emisi karbon. Namun, pemanfaatannya tidak semudah yang dibayangkan. Pengeboran sumur panas bumi sangat mahal dan berisiko tinggi. Biaya satu sumur bisa mencapai miliaran rupiah, dan tingkat keberhasilan pada tahap awal eksplorasi sering kali kurang dari lima puluh persen. Artinya, kerugian besar bisa terjadi jika sumur gagal menghasilkan uap atau panas yang cukup untuk pembangkit listrik.
Mengapa kegagalan ini terjadi? Penyebab utamanya adalah ketidakpastian. Sistem panas bumi di bawah permukaan sangat kompleks. Menentukan zona dengan suhu tinggi dan permeabilitas baik—dua faktor utama keberhasilan sumur—bukan hal mudah. Selama ini, penentuan lokasi pengeboran banyak bergantung pada penilaian ahli. Meski keahlian penting, pendekatan ini bersifat subjektif dan sulit direplikasi, sehingga sering menimbulkan hasil yang tidak konsisten dan pemborosan biaya.
Sebuah studi di Lapangan Panas Bumi Kamojang (KGF), Jawa Barat yang dipimpin oleh Dr. Suryantini (dari KK Geologi Terapan FITB), menawarkan solusi yang lebih cerdas. Peneliti mengembangkan metode sistematis menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk meningkatkan keberhasilan pengeboran. Alih-alih hanya mengandalkan intuisi, mereka menggabungkan berbagai data geofisika—seperti resistivitas listrik, anomali gravitasi, dan data magnetik—ke dalam “peta keterfavoritan.” Peta ini menunjukkan area dengan peluang keberhasilan pengeboran tertinggi.
Prosesnya dilakukan dengan memberikan bobot pada setiap jenis data sesuai relevansinya terhadap sumur produktif. Misalnya, data CSAMT yang mengukur resistivitas pada kedalaman lebih besar terbukti efektif untuk mengidentifikasi batas reservoir. Data anomali magnetik membantu menemukan sumber panas, sedangkan data gravitasi dan gradien horizontal (HG) mengungkap struktur geologi seperti sesar yang mengontrol aliran fluida. Dengan mengintegrasikan semua data melalui metode Index Overlay (IOM), peneliti membuat peta yang mengurutkan zona dari sangat tinggi hingga sangat rendah keterfavoritannya.
Hasilnya sangat menjanjikan. Salah satu skenario, FavMap2, yang menggabungkan data CSAMT, HG, dan magnetik, memprediksi keberhasilan sumur hingga tujuh puluh dua persen. Ini jauh lebih baik dibanding metode tradisional. Studi ini juga menegaskan bahwa struktur geologi berperan besar dalam keberhasilan pengeboran. Sesar seperti Kendeng, Citepus, dan Pateungteung sangat memengaruhi permeabilitas, sehingga menjadi target penting dalam eksplorasi.
Mengapa ini penting? Bagi Indonesia, yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, pendekatan ini dapat menghemat biaya dan mempercepat transisi menuju energi bersih. Dengan mengurangi kegagalan pengeboran, pengembang dapat mengoptimalkan sumber daya dan mempercepat jadwal proyek. Selain itu, metode ini dapat diterapkan di lapangan panas bumi lain, terutama yang berada di kawasan kaldera vulkanik seperti Kamojang.
Di masa mendatang, studi ini menyarankan langkah praktis: pertama, analisis berbasis GIS sebaiknya menjadi standar dalam proyek panas bumi baru. Kedua, tim lokal perlu dilatih dalam integrasi data dan analisis spasial untuk memastikan interpretasi yang akurat. Terakhir, menggabungkan metode ini dengan teknologi modern seperti machine learning dapat meningkatkan prediksi, meskipun membutuhkan data yang lebih besar dan sumber daya komputasi yang lebih canggih.
Melalui blogpost ini, dapat penulis menekankan bahwa eksplorasi panas bumi yang lebih cerdas bukan hanya terobosan ilmiah, tetapi juga solusi praktis untuk pengembangan energi berkelanjutan. Dengan memanfaatkan data dan teknologi, kita dapat membuat pengeboran lebih aman, lebih hemat biaya, dan lebih efisien, membuka jalan menuju masa depan yang lebih hijau.
Hits: 1
No Comments