Aryati dan Bayangan Masa Depan ITB
Aryati dan Bayangan Masa Depan ITB
Oleh: Dudy D. Wijaya (Dekan FITB 2025-2030)
![]()
Aryati, dikau mawar asuhan rembulan
Aryati, dikau gemilang seni pujaan
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam
Hanya dalam mimpi
Aryati, dikau mawar di taman khayalku
Tak mungkin tuan terpetik daku
Walaupun demikian nasibku
Namun aku bahagia seribu satu malam
Generasi Baby Boomer hingga generasi X mungkin pernah pernah mendengar penggalan lirik lagu di atas. Sebuah karya dari sang maestro, Ismail Marzuki, yang dikenal dengan gaya bahasanya yang metaforis, puitis dan romantis.
Aryati adalah kerinduan kepada sesuatu yang begitu anggun, tetapi mustahil dimiliki—setidaknya untuk saat terdekat. Keanggunan itu hanya hadir di taman khayal dan dalam dunia mimpi. Namun demikian, ada kebahagiaan yang seolah tak berujung—“seribu satu malam.” Oleh karenanya, taman khayal dan mimpi itu harus dipelihara dan dibiarkan hidup dalam imajinasi.
Aryati seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan dapat tercerabut ketika manusia kehilangan keberanian untuk bermimpi dan berimajinasi.
***
Jean-Paul Sartre membedakan secara tegas antara persepsi dan imajinasi. Jika kita, warga ITB, melihat gerbang di Jalan Ganesha, persepsi akan membawa kesadaran kepada sesuatu yang hadir di hadapan kita: “ini adalah gerbang masuk kampus ITB”. Tetapi imajinasi dapat membawa kita jauh melampaui apa yang sedang kita lihat. Kita dapat membayangkan: “sepuluh tahun lagi, kampus ini akan menjadi salah satu pusat peradaban dunia”.
Gerbangnya tetap sama. Jalan Ganesha tetap berada di tempatnya. Tetapi di dalam kesadaran kita, sesuatu yang belum ada telah memperoleh bentuk.
Dalam pengertian ini, imajinasi memiliki daya yang melampaui persepsi. Persepsi membawa kita kepada apa yang hadir—kepada apa yang ada “di sini dan sekarang”. Imajinasi memungkinkan kita berhubungan dengan sesuatu yang tidak hadir—sesuatu yang belum ada, sesuatu yang tidak sedang kita lihat, atau bahkan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Di sinilah metafor terdalam dari Aryati tentang manusia: “kita tidak hanya hidup di dalam dunia yang ada, tetapi juga di dalam dunia yang kita bayangkan”. Dunia yang kita bayangkan memang belum menjadi kenyataan, tetapi ia dapat memengaruhi cara kita melihat kenyataan yang ada dan menentukan ke mana kita hendak bergerak.
Persoalan selanjutnya bukan apakah sesuatu yang kita bayangkan itu sudah ada atau belum, tetapi seberapa kuat bayangan itu hidup dalam kesadaran kita sehingga melahirkan harapan dan menggerakkan tindakan kita pada hari ini.
***
ITB yang kita lihat hari ini adalah sesuatu yang nyata. Ia memiliki sejarah, tradisi, gedung, dosen, mahasiswa, penelitian, reputasi, berbagai capaian, sekaligus berbagai persoalan yang belum terselesaikan. Semua itu dapat kita lihat, ukur, evaluasi, dan pertanggungjawabkan. Itulah ITB yang hadir di hadapan kita.
Tetapi ITB tidak hanya tentang apa yang ada hari ini, ada ITB yang belum ada.
Sebagaimana gagasan Sartre tentang kesadaran yang harus bisa mengambil jarak dari dunia yang ada untuk dapat membayangkan kemungkinan yang lain. Karena itu, mungkin sesekali kita perlu meninggalkan sejenak ITB hari ini untuk membayangkan ITB yang belum ada pada sepuluh tahun mendatang.
Aryati telah mengingatkan bahwa tidak ada dosa bagi mereka yang berani membangun taman khayal dalam sebuah mimpi. Maka, tidak pula kita berdosa jika berani membayangkan ITB sebagai sebuah kampus yang memiliki daya saing global, memiliki pengaruh intelektual yang lebih besar, menjadi rujukan dalam menyelesaikan persoalan dunia, dan tetap memiliki identitas serta relevansi yang kuat bagi Indonesia.
Bahkan lebih jauh dari itu, kita dapat membayangkan ITB sebagai universitas yang tidak hanya merespons perubahan dunia, tetapi ikut menentukan arah perubahan tersebut. Universitas yang tidak hanya membaca masa depan, tetapi turut membentuknya.
Justru kebahagiaan “seribu satu malam” mungkin bermula dari keberanian untuk memimpikan ITB yang belum ada.
***
Satu hal perlu kita sadari: sesuatu yang hanya hidup dalam imajinasi akan tetap menjadi taman khayal. Ia mungkin indah, mungkin memberikan kebahagiaan seribu satu malam, tetapi tidak pernah menjadi kenyataan apabila tidak ada keberanian untuk membawanya keluar dari dunia pikiran.
Namun, gagasan Ernst Bloch tentang “Not-Yet-Become” dapat memberi harapan bagi para pejuang mimpi. Gagasan masa depan bukanlah ruang kosong yang sepenuhnya terpisah dari masa kini. Di dalam kenyataan hari ini selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan yang belum terwujud.
Maka, ITB yang belum ada itu bukanlah sesuatu yang kosong, tetapi ia adalah kemungkinan yang terkandung di dalam ITB hari ini. Tugas kita adalah menemukan kemungkinan itu, memberinya bentuk melalui imajinasi, menjadikannya harapan, lalu mengubah harapan menjadi tindakan.
Lantas, siapa yang akan menghadirkan sesuatu yang baru itu ke dunia?
Hannah Arendt menawarkan sebuah jawaban melalui gagasan “Natality”—kemampuan manusia untuk memulai sesuatu yang baru. Setiap kelahiran membawa kemungkinan dimulainya sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi dari masa lalu. Karena itu, generasi baru bukan sekadar pewaris dunia yang telah kita bangun. Mereka juga adalah pembawa kemungkinan bagi lahirnya dunia yang baru.
Cara pandang Arendt menempatan pendidikan pada makna terdalam. Kita mendidik bukan hanya untuk membuat generasi berikutnya mampu melanjutkan ITB yang sudah ada. Kita mendidik agar mereka memiliki kemampuan untuk melahirkan ITB yang belum ada.
Mungkin mahasiswa yang hari ini duduk di ruang kelas akan menjadi ilmuwan yang menemukan sesuatu yang belum kita ketahui. Mungkin mereka akan membangun teknologi yang hari ini belum kita bayangkan. Mungkin mereka akan menemukan cara baru menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan kemanusiaan. Dan mungkin pula mereka akan membawa ITB ke tempat yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh generasi kita.
Kembali kepada Aryati, mungkin memang tidak ada dosa bagi mereka yang berani bermimpi. Sebab, sebelum masa depan menjadi kenyataan, ia harus terlebih dahulu menjadi bayangan dalam kesadaran, harapan dalam jiwa, dan keberanian dalam tindakan.
Dan mungkin, ITB masa depan sedang menunggu untuk segera kita lahirkan.
DDW @Bukit Ligar, 05.09.2026