🌋 Letusan Krakatau (?), Acoustic Shadow Zone, dan Suara Dentuman di Jawa Bagian Barat
🌋 Letusan Krakatau (?), Acoustic Shadow Zone, dan Suara Dentuman di Jawa Bagian Barat
Oleh: Mirzam Abdurrachman (Dosen FITB) -> Profil di ITB Scholar

Semalam, Jawa bagian barat seperti “mendengar sapaan” berupa dentuman yang muncul dan hilang selama beberapa jam.
Berdasarkan laporan PVMBG, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh. Hingga 5 September 2026 pukul 04.40 WIB, erupsi masih berlangsung, dan suara gemuruh masih terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
Menariknya, pada waktu yang hampir bersamaan, suara dentuman juga dilaporkan terdengar di berbagai wilayah Jawa bagian barat.
Apakah dentuman tersebut berasal dari erupsi Anak Krakatau?
Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya. Namun, ada satu fenomena atmosfer yang menarik untuk kita cermati, yaitu “zona bayangan suara” atau acoustic shadow zone.
📡 Mengapa suara bisa terdengar jauh, tetapi tidak terdengar di tempat yang lebih dekat?
Model yang dibuat oleh tim peneliti Chervet dkk (1996) menjelaskan hal berikut.
Secara sederhana, suara tidak selalu merambat lurus dari sumber ke segala arah.
Kondisi atmosfer, terutama perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin terhadap ketinggian, dapat mengubah kecepatan rambat suara. Akibatnya, gelombang suara dapat dipantulkan ke atas (upward refraction).
Di dekat permukaan, kemudian dapat terbentuk suatu wilayah yang disebut “zona bayangan suara” (acoustic shadow zone). Di wilayah ini, meskipun secara geografis relatif dekat dengan sumber suara, gelombang suara langsung justru tidak sampai. Akibatnya, suara bisa terdengar sangat lemah, bahkan sama sekali tidak terdengar.
Lalu muncul fenomena yang lebih menarik.
Semakin jauh dari sumber, suara tidak selalu semakin hilang. Sebagian energi suara yang merambat di atas shadow zone dapat mengalami hamburan (scattering) akibat turbulensi atmosfer dan, dalam kondisi tertentu, difraksi. Energi tersebut kemudian dapat “tersebar” kembali ke wilayah bayangan suara.
Akibatnya, suara yang tidak terdengar di suatu tempat justru dapat kembali terdengar di lokasi yang lebih jauh dari sumber.
Jadi, secara sederhana, bukan berarti suara dari Krakatau (?) atau sumber lainnya berhenti merambat. Atmosfer dapat mengubah jalur rambatnya. Ada wilayah yang menjadi “bayangan suara”, sementara di tempat yang lebih jauh, sebagian energi suara dapat kembali masuk melalui proses hamburan dan pembelokan (difraksi) atmosfer.
Dan malam tadi, salah satu tempat yang “mendapat kiriman suara” itu adalah rumah saya di Bandung.
🌋 Apakah ini cara Krakatau (?) menyapa saya dan kita semua semalam?
Bisa jadi menarik untuk dipertimbangkan sebagai salah satu hipotesis, tetapi tentu belum bisa disimpulkan demikian.
Untuk menjawabnya dengan lebih meyakinkan, diperlukan kajian lebih mendalam, meliputi korelasi waktu erupsi dengan waktu kedatangan suara, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, serta data dari berbagai lokasi di Jawa bagian barat.
Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik, bukan sebuah kesimpulan.
Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan.
Rujukan utama:
Chevret, P., Blanc-Benon, P., & Juvé, D. (1996). A numerical model for sound propagation through a turbulent atmosphere near the ground. The Journal of the Acoustical Society of America, 100(6), 3587–3599. https://doi.org/10.1121/1.417224.