GUARDIAN to CONSERVE FITB-ITB
GUARDIAN to CONSERVE: ITB Hadirkan Sains, Teknologi, dan Edukasi Ketahanan Pesisir terhadap Perubahan Iklim di Pulau Rajuni Kecil, Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar

Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “GUARDIAN to CONSERVE (Coastal Nature-based and Sustainability for Education, Vulnerability and Environmental Assessment)” pada 10–17 Agustus 2026 di Pulau Rajuni Kecil, Kecamatan Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini diketuai oleh Dr. rer. nat. Rima Rachmayani, S.Si., M.Si. dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB. Program GUARDIAN to CONSERVE juga melibatkan dosen dari berbagai bidang keilmuan, mahasiswa ITB, serta mitra pemerintah daerah dan pengelola kawasan konservasi.
GUARDIAN to CONSERVE dikembangkan dengan pendekatan Conservation Oceanography yang mengintegrasikan kajian oseanografi, pemantauan ekosistem, pendidikan lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat untuk mendukung pengelolaan pesisir berbasis STEM. Pendekatan ini relevan bagi Taman Nasional Taka Bonerate, kawasan atol dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, di mana ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan ekosistem pesisir lainnya berperan penting dalam mendukung perikanan, ketahanan pangan, dan perlindungan pesisir.
Bagi masyarakat pulau-pulau kecil seperti Rajuni Kecil, keberlanjutan ekosistem laut sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan mata pencaharian. Namun, perubahan iklim, peningkatan suhu laut, perubahan kondisi oseanografi, serta tekanan pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan dapat mengancam kesehatan ekosistem dan ketahanan masyarakat pesisir. Karena itu, diperlukan upaya yang menggabungkan sains, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat secara terpadu.
Menggabungkan Teknologi, Sains, dan Bisnis untuk mendukung ketahanan pesisir
Salah satu kekuatan utama GUARDIAN to CONSERVE adalah keterlibatan berbagai disiplin ilmu dalam satu rangkaian kegiatan. Pendekatan ini memungkinkan persoalan pesisir tidak hanya dilihat dari aspek ekologis, tetapi juga dari perspektif geospasial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.

Kegiatan pemantauan menggunakan Baited Remote Underwater Video (BRUV) dikoordinasikan oleh Dr. Teguh Purnama Sidiq, S.T., M.T., dari Kelompok Keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB. BRUV digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi dan keanekaragaman biota laut melalui pengamatan bawah air menggunakan kamera.

Sementara itu, edukasi perubahan iklim kepada siswa-siswi SD dan SMP dan pengembangan marinepreneur kepada ibu-ibu di Pulau Rajuni Kecil dikoordinasikan oleh Sarah Ismullah, S.Si., M.B.A. dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Kegiatan ini menghubungkan isu lingkungan dengan peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya dalam memahami tantangan perubahan iklim sekaligus mengembangkan peluang ekonomi yang berkaitan dengan potensi sumber daya pesisir dan laut. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjadi pengguna sumber daya laut, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah.

Adapun edukasi mengenai pentingnya ekosistem pesisir dan laut kepada nelayan dikoordinasikan oleh Saat Mubarrok, S.Si., M.Si., Ph.D. dari Program Studi Oseanografi ITB. Edukasi ini menekankan peran ekosistem laut sebagai habitat dan tempat berkembang biak berbagai sumber daya perikanan, yang secara langsung mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir. Hal ini menjadi penting bagi masyarakat Pulau Rajuni yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya laut. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga kesehatan ekosistem laut berarti turut menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan kehidupan mereka di masa mendatang.
Mengenalkan Perubahan Iklim kepada Siswa Rajuni Kecil
Salah satu kegiatan yang mendapatkan perhatian khusus adalah edukasi perubahan iklim bagi siswa SD dan SMP di Rajuni Kecil. Tim ITB memperkenalkan berbagai perubahan yang terjadi di laut dan wilayah pesisir, termasuk peningkatan suhu laut, perubahan kondisi ekosistem, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Edukasi dikemas secara kontekstual dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan yang sehari-hari mereka lihat. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat memahami bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan global, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap pulau, laut, dan sumber daya yang berada di sekitar mereka.
Kegiatan ini sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam membangun literasi kelautan dan kesadaran lingkungan generasi muda di wilayah kepulauan.
Menguatkan Pemahaman Nelayan tentang Pentingnya Ekosistem
GUARDIAN to CONSERVE juga melibatkan masyarakat nelayan dalam kegiatan edukasi mengenai pentingnya ekosistem pesisir dan laut. Masyarakat diajak memahami fungsi terumbu karang, lamun, dan ekosistem lainnya sebagai habitat berbagai biota laut yang mendukung produktivitas perikanan.

Diskusi dengan masyarakat juga diarahkan pada hubungan antara kondisi ekosistem dan keberlanjutan mata pencaharian. Dengan pemahaman tersebut, konservasi diharapkan dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga sumber daya yang mendukung kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Mendorong Marinepreneur dan Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga

Selain konservasi, program ini memberikan perhatian pada aspek penguatan ekonomi masyarakat melalui marinepreneur. Masyarakat diperkenalkan pada peluang pengembangan usaha berbasis potensi pesisir dan laut dengan tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melihat potensi sumber daya lokal tidak hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan produk dan kegiatan usaha dengan nilai tambah.
Dengan diversifikasi usaha rumah tangga, masyarakat diharapkan memiliki alternatif sumber pendapatan yang dapat mendukung ketahanan ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan sumber daya laut secara berlebihan.
Kolaborasi ITB dan Pemangku Kepentingan Lokal
Pelaksanaan GUARDIAN to CONSERVE tidak dilakukan oleh ITB secara sendiri. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa ITB sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus penguatan pengalaman lapangan dalam memahami persoalan nyata masyarakat dan ekosistem pesisir.

Program ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah, di antaranya Dinas Perikanan Kabupaten Selayar dan Dinas Pariwisata Kabupaten Selayar, yang masing-masing diwakili oleh Hasriaya, S.Pi. dan Sulviana, A.Ma. Keduanya turut mendampingi tim selama pelaksanaan kegiatan di Selayar, sehingga koordinasi dengan pemerintah daerah dapat berjalan dengan baik. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan ilmiah dan edukasi yang dilaksanakan selaras dengan kebutuhan pengelolaan kawasan serta kondisi masyarakat setempat. Keterlibatan berbagai pihak juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, masyarakat, dan mahasiswa.
Dari Data Ilmiah Menuju Aksi Konservasi
GUARDIAN to CONSERVE dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara sains, masyarakat, dan pengelolaan pesisir. Data hasil pemantauan ekosistem dan kondisi oseanografi diharapkan dapat menjadi dasar untuk memahami potensi dan kerentanan wilayah, sementara edukasi kepada siswa dan nelayan serta pengembangan marinepreneur diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Melalui integrasi pemantauan ekosistem, informasi geospasial, oseanografi, edukasi perubahan iklim, dan penguatan ekonomi lokal, ITB berharap kegiatan ini dapat mendorong pengelolaan pulau-pulau kecil yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Konservasi tidak hanya berarti menjaga ekosistem, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat yang hidup dan bergantung pada ekosistem tersebut. Rajuni Kecil menjadi ruang pembelajaran bersama bagi akademisi, mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dan pengelola kawasan untuk membangun ketahanan pesisir bagi generasi mendatang.
SDGs:
