FITB ITB Summer Course 2026: Membangun Generasi Global untuk Konservasi Pulau-Pulau Kecil
FITB ITB Summer Course 2026: Membangun Generasi Global untuk Konservasi Pulau-Pulau Kecil
Bandung, Juli 2026 – Program Studi Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses menyelenggarakan FITB ITB Summer Course 2026, sebuah program internasional yang mengangkat tema “Small Island Conservation: A Case from an Archipelagic Nation in Indonesia.” Program ini berlangsung pada 13–31 Juli 2026 dan merupakan hasil kolaborasi FITB ITB dengan LPDP serta MERO Foundation (Indonesian Marine Education & Research Organisation). Program ini dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dalam pembelajaran mengenai konservasi pulau-pulau kecil melalui kombinasi pembelajaran daring, praktik lapangan, dan pertukaran budaya.

Selama periode 15–24 Juli 2026, peserta mengikuti pembelajaran daring secara asinkron yang menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia maupun mancanegara. Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek konservasi pesisir dan laut, mulai dari pengantar oseanografi, konservasi laut, penilaian lingkungan pesisir, survei dasar laut, marine debris, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Narasumber berasal dari Institut Teknologi Bandung, MERO Foundation, Universiti Malaysia Sabah (UMS), dan UInspire Indonesia, sehingga peserta memperoleh perspektif multidisiplin mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan field excursion di Karangasem, Bali, pada 27–31 Juli 2026. Pada kegiatan ini, peserta memperoleh pengalaman langsung melakukan observasi ekosistem pesisir, pengambilan sampel air laut dan plankton, pengenalan metode survei ekosistem laut, identifikasi marine debris, serta mempelajari upaya konservasi yang dikembangkan oleh MERO Foundation. Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan lapangan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami keterkaitan antara aspek ekologi, sosial, dan budaya dalam pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Ketua Program FITB ITB Summer Course 2026, Ivonne Milichristi Radjawane, S.Si., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa konservasi pulau-pulau kecil memerlukan pendekatan yang bersifat multidisiplin dan kolaboratif.
“Pulau-pulau kecil merupakan ekosistem yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat penting. Namun, kawasan ini juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga tekanan akibat aktivitas manusia. Melalui FITB ITB Summer Course 2026, kami berupaya menghadirkan wadah pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, serta pertukaran budaya untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam memahami dan mengelola ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Program ini juga menjadi sarana membangun jejaring dan kolaborasi internasional yang diharapkan dapat berkembang menjadi riset dan inovasi bersama di masa depan.”
Program ini mendapatkan respons yang sangat positif dari para peserta. Chris Steven Sado Fodhe Au dari Ganesha Education University menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru mengenai ekosistem pesisir, mikroplastik, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir, sekaligus membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara. Sementara itu, Muhammad Zain Imran dari Pakistan mengungkapkan bahwa program ini sangat informatif dan memperluas pemahamannya mengenai konservasi laut serta pentingnya kolaborasi lintas budaya. Peserta dari Pukyong National University, Korea Selatan, Park Siwoo, juga mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui berbagai aktivitas lapangan dan kerja sama dengan peserta internasional selama kegiatan berlangsung.
Melalui penyelenggaraan FITB ITB Summer Course 2026, FITB ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan internasional, peningkatan kapasitas generasi muda, serta penguatan kolaborasi global dalam bidang ilmu kebumian, kelautan, dan konservasi lingkungan. Program ini diharapkan menjadi wadah yang berkelanjutan untuk mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan praktisi dalam menghasilkan solusi inovatif bagi pengelolaan pulau-pulau kecil dan ekosistem pesisir di Indonesia maupun dunia.
Daftar pembicara/instruktur yang terlibat, beserta institusi asal dan topik yang disampaikan (jika tersedia)
| Pembicara | Institusi | Topik |
| Dr.rer.nat. Rima Rachmayani | Institut Teknologi Bandung | Pembuka pengantar program studi Oseanografi |
| Christian Wibowo, S.Si | MERO Foundation | Introduction to MERO, Plankton Description |
| I Wayan Mudianta, Ph.D | MERO Foundation | Introduction to the MERO Marine Conservation and Education Project |
| Saat Mubarrok, Ph.D. | Institut Teknologi Bandung | Assessing Marine Debris |
| Dr. Eng. Faruq Khadami | Institut Teknologi Bandung | Introduction to Seabed Survey Methods (Including the Manta Tow Technique) |
| Dr. Ejria binti Saleh | UMS, Malaysia | Ocean Environmental Assessment for Conservation |
| Nurrul Fazlina binti Osman, Ph.D | UMS, Malaysia | Bridging Science and Community Resilience — Multi-Stakeholder Engagement |
| Ni Nyoman Era Jumantini, S.Sos., M.A. | UInspire Indonesia | Assessing Socio-Cultural and Economic Aspects of Coastal Communitie |
| Muhammad Fakhururrazi, S.Kom | MERO Foundation | Field Ecologist Environment |