Belajar dari Situ Gintung

Oleh Imam A. Sadisun

SITU atau dalam istilah yang lebih umum juga dikenal sebagai danau berukuran relatif kecil, dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan. Situ-situ ini mendapatkan pasokan air baik dari curah hujan, mata air, atau bahkan sungai-sungai yang terdapat di sekitarnya. Beberapa situ memiliki saluran keluar (outlet) yang terkadang juga dapat terbentuk secara alamiah atau merupakan konstruksi buatan, yaitu dengan membangun bendungan kecil atau tanggul.

Situ Gintung di wilayah Cirendeu, Tangerang, Banten, pada mulanya merupakan situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul pada situ ini dibangun sejak zaman Pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu pada 1933 (Detik.com, 27/3). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkandi dkk. (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan volkanik.

Berdasarkan jenis materialnya, tanggul Situ Gintung berupa urugan tanah yang relatif homogen (earth dam). Pada umumnya, tanggul jenis ini terdiri dari satu jenis tanah kedap air yang dipadatkan, yang seharusnya dilengkapi dengan sistem penyalir horizontal (horizontal drain) atau cerobong (chimney drain). Sistem penyalir merupakan bagian yang penting dalam konstruksi tanggul, terutama berfungsi menurunkan garis aliran rembesan di dalam tubuh tanggul.

Ketidakstabilan tanggul disebabkan berbagai faktor, yang dapat memainkan peranannya secara terpisah maupun gabungan. Salah satu faktor adalah erosi bawah permukaan di bagian hilir tanggul atau erosi buluh (piping erosion). Tanah yang umumnya kohesif hasil pelapukan endapan volkanik, cenderung mudah mengalami proses ini. Erosi ini kadang diawali dengan retaknya lereng tanggul di bagian hilir, disusul dengan runtuhnya badan tanggul. Runtuhnya badan tanggul bisa juga dipengaruhi kemungkinan rusaknya tanah bawah (subsoil) akibat erosi buluh.

Bahaya akibat keruntuhan tanggul, akan diperparah apabila kondisi genangan air di situ terlalu tinggi (overtopping) atau bahkan melimpas tanggul. Lebih dari itu, volume air yang melimpah tentunya akan menjadi ancaman yang lebih besar setelah badan tanggul runtuh.

Hal-hal tersebut sangat mungkin terjadi di tanggul Situ Gintung, yang mengakibatkan jebolnya badan tanggul, Jumat (27/3) dini hari. Sebelum tanggul runtuh, banyak yang melaporkan adanya retakan-retakan di badan tanggul. Kemungkinan besar, ini berkaitan dengan proses erosi buluh dan penurunan sebagian badan bendungan.

Hujan deras yang terjadi beberapa hari sebelum jebolnya tanggul Situ Gintung, merupakan penyebab utama naiknya genangan air di situ tersebut. Situ dengan luas genangan diperkirakan mencapai 21 ha itu dan dengan volume air mencapai 1,5 juta meter kubik, telah memuntahkan sebagian besar isinya setelah badan tanggul jebol. Tak salah bila banyak korban bencana, yang menyatakan banjir bandang ini seakan tsunami kecil. Bentuk morfologi permukaan tanah yang tidak rata di bagian hilir, sangat memengaruhi larinya banjir bandang dan juga penyebarannya.

Sistem pemantauan

Dengan umur yang sangat tua, selayaknya Situ Gintung mendapatkan perhatian yang cukup. Tidak hanya sebatas faktor kapasitas dan kualitas air yang mengisi situ tersebut, tetapi menyangkut kestabilan badan tanggulnya. Apalagi, Situ Gintung ini merupakan salah satu alternatif tempat tujuan wisata yang tak jauh dari ibu kota negara, maka jaminan keamanan kepada para wisatawan pun harus diberikan.

Keamanan tanggul harus selalu dievaluasi. Adanya potensi keruntuhan badan tanggul, seharusnya dapat diidentifikasi secara dini. Usaha-usaha pencegahan ini sangat penting dan sekecil apapun gejala terhadap kemungkinan kejadian keruntuhan, badan tanggul harus selalu diperhitungkan. Metode lain yang cukup penting, yaitu pemantauan atau monitoring.

Gejala-gejala adanya ketidakstabilan lereng bendungan umumnya dapat dipantau secara visual. Ciri-ciri umum yang seringkali dijumpai adalah rembesan atau bahkan mata air di bagian sisi hilir kaki tanggul secara liar. Mata air ini lambat laun bisa berkembang dan akan mengakibatkan proses erosi bawah permukaan. Proses perkembangan erosi bawah permukaan kadang-kadang disertai dengan retaknya tanggul, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya seluruh badan tanggul.

Seiring dengan semakin berkembangnya teknik instrumentasi, bukannya tidak mungkin memasang alat pantau di setiap tanggul atau bendungan. Dari jenis alat pantau yang hanya digunakan untuk mengukur perubahan level genangan air seperti AWLR/automatic water level recording, hingga jenis alat pantau yang dapat mendeteksi pergeseran pada permukaan ataupun di dalam tubuh tanggul (seperti halnya ekstensometer). Hampir seluruh alat pantau tersebut dapat dikontrol dari jarak jauh secara real-time.

Mitigasi bencana

Dengan telah berkembang kawasan pemukiman yang relatif cukup padat di bagian hilir tanggul Situ Gintung, sebenarnya sangat disayangkan mengapa hal ini terjadi. Dengan kasatnya potensi risiko bencana yang ada, usaha-usaha mitigasi bencana terhadap kemungkinan jebolnya tanggul Situ Gintung seharusnya dilakukan.

Mitigasi dapat dilakukan secara struktural, misalnya dengan memberikan tambahan sistem perkuatan tanggul, ataupun secara nonstruktural, antara lain dengan melakukan berbagai sosialisasi dan arahan yang tepat tentang potensi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi di sekitar kita. Mitigasi secara umum dilakukan sebelum bencana tiba, seringkali tidak menentu atau bahkan lebih cepat dari waktu-waktu yang diperkirakan, bahkan terkadang memiliki intensitas yang jauh lebih besar dari perkirakan semula.

Belajar dari peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, sepertinya bencana ini sama sekali tidak disangka-sangka kejadiannya. Meskipun ada warga mengetahui indikasi ketidakstabilan tanggul, tetapi tindakan kesiapsiagaan yang dilakukannya belum terancang dan terorganisasi dengan baik. Yang perlu mendapat perhatian di sini adalah dengan adanya peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, masyarakat di berbagai wilayah tanah air tinggal di sekitar tanggul atau bendungan (khususnya berada di bagian hilir), mulai resah. Apakah hal ini akan dibiarkan terus menerus berlangsung?***

Penulis, Anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB – ITB dan Ketua Divisi Geologi Teknik – IAGI.

Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=66804

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IndonesiaEnglish