ITB Buka Program Diploma untuk Survei dan Pemetaan

Bogor – Kebutuhan ahli Survei dan Pemetaan (Surta), baik di tingkat lembaga dan pemerintah sangat kekurangan. Padahal, Indonesia dengan cakupan geografis yang luas harus terus menciptakan tenaga-tenaga ahli baru.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan tenaga potensial dengan membuka diploma satu (D1) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Di dalam BIG sendiri, untuk tenaga Surta hanya terhitung puluhan dan usia kerjanya sudah di atas 15 tahun. Ke depan kami membutuhkan setidaknya 2.000 operator Surta yang akan disebar di Indonesia,” ungkap Sekretaris Utama BIG, Titie Suparwati di sela pendatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ITB dan BIG di Cibinong, Bogor, Jumat (15/8).

Menurut Titie, tenaga Surta dibutuhkan untuk melakukan observasi, pengukuran tanah, dan pemetaaan. Meliputi pengambilan dan pemindahan data-data dari lapangan ke peta maupun sebaliknya.

Pada tingkat pemerintahan daerah (pemda), tenaga ahli ini dapat bekerja di Dinas Tata Ruang atau Badan Perencanaan Daerah (Bapeda).

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Prof. Eddy A Subroto menjelaskan, berdasarkan kebutuhan tersebut, sejak tahun 2011 telah dilakukan pengkajian dan baru kali ini programnya dibuka ITB.

“Ini bisa dibilang pilot project ITB dan BIG. Pembukaan angkatan awal, difokuskan bagi calon mahasiswa dari lembaga dan pemerintahan daerah, mengingat kebutuhan yang urgensi,” paparnya.

Namun demikian, ke depannya tidak menuntut kemungkinan terbuka bagi masyarakat umum usai lulus sekolah menengah atas (SMA).

“Ke depan, profesi ini menjanjikan. Bukan untuk lembaga atau pemerintah. Melainkan juga perusahaan yang membutuhkan tenaga-tenaga Surta. Terlebih untuk mempersiapkan tenaga ahli memasuki Masyarakat Ekonomi Asean 2015,” tambahnya.

Program Diploma satu studi Survei dan Pemetaan akan dimulai pada 25 Agustus dengan tahun ajaran 2014 – 2015 dan bertempat di kampus Jatinangor, Bandung. Sedangkan staf pengajar akan diisi praktisi dari ITB dan BIG.

Penulis: Vento Saudale/EPR

Sumber:Jakarta Globe

Berita Terkait

IndonesiaEnglish