Sebagian Besar Situ Dikelilingi Perumahan Oleh Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun

Belajar dari Situ Gintung. Begitu Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, M.T. memberi judul artikelnya yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat (30/3). Lebih dalam, anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan Fakultas Ilmu Teknologi dan Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) itu pun mengutarakan analisisnya atas jebolnya tanggul Situ Gintung kepada wartawan “PR”.

Menurut dia, penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang, Banten, yang menelan lebih dari seratus korban itu, merujuk pada kelalaian. Garis besarnya, musibah Situ Gintung terjadi karena ketidakkonsistenan atas regulasi rencana tata ruang dan wilayah serta lemahnya monitoring.

Imam lalu menerangkan tiga penyebab jebolnya tanggul situ yang dibangun pemerintah Hindia-Belanda pada 1933 itu. Pertama, faktor alam. Pergantian musim yang tidak sesuai dengan siklus alam hingga tidak menentunya curah hujan, turut andil dalam rusaknya situ atau tanggul tersebut.

“Curah hujan 160 mm/hari itu sudah di atas rata-rata. Bisa jadi desain dam sudah diprediksi bisa menampung curah hujan di atas rata-rata. Tapi sekarang, tampungan volume air terbatas karena banyaknya endapan atau sedimentasi. Hasilnya, overtopping (pelimpasan air melalui atas tanggul) semakin mudah,” ujar dosen FITB-ITB itu.

Imam menganalisis penyebab lainnya, yaitu ketidakkonsistenan terhadap aturan tata ruang dan wilayah melalui fungsi alih lahan yang tidak sesuai. Dalam dokumentasinya tentang 51 waduk dan situ di Jawa Barat, sebagian besar situ telah dikelilingi perumahan padat penduduk, tak terkecuali di Situ Gintung.

“Tidak heran ketika tanggul jebol, air langsung menyapu rumah-rumah warga. Seharusnya 100 meter dari kaki tanggul tidak boleh ada bangunan, bahkan di sekitar tubuh bendungan pun tidak boleh. Bendungan itu adalah timbunan, bukan tanah asli, dan dirancang bukan untuk menahan bangunan,” tuturnya.

Masyarakat yang secara sadar menghuni wilayah terlarang tadi, tak ubahnya memasang bom waktu. Nahasnya, sistem peringatan dini dan monitoring sebagai alarm keamanan tanggul tak juga ditemukan di Situ Gintung, bahkan bisa jadi di kebanyakan situ di Jawa Barat.

Membicarakan monitoring, artinya menginjak pada faktor terakhir, yaitu kestabilan tanggul. Situ Gintung yang bervolume dua juta meter kubik sehingga termasuk kategori situ besar, tak tersentuh sistem monitoring standar, bahkan monitoring visual. “Dari informasi, tidak ada yang berani menyebutkan, misalnya inclinometer, yaitu alat untuk mengetahui adanya bidang yang mudah longsor dan piezometer untuk mendeteksi adanya aliran air melalui tekanan pori. Itu perangkat standar yang sangat krusial dipasang, apalagi lahan sekitar tanggul beralih fungsi,” katanya.

Imam juga mempertanyakan fungsi sistem penyalir atau drainase dan saluran pelimpah banjir (spill way) yang mencegah terjadinya rapid draw-down (penurunan air secara cepat sehingga memperkecil tubuh tanggul dan mempertinggi tekanan air).

Sebagai ahli yang merasa bertanggung jawab secara moral dalam keamanan bendungan terkait konstruksi tanggul dan monitoring, Imam memberi masukan melalui wawancara di ruang kerjanya di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Jln. Ganeca No. 10, Bandung, Kamis (2/4).

Bagaimana karakter dan kondisi umumnya situ dan waduk di Jawa Barat?

Ada situ yang berkarakter, seperti Situ Gintung, yaitu awalnya terbentuk secara alamiah, lalu untuk kebutuhan masyarakat, dibuat tanggul. Ada juga situ berkarakter lain, misalnya dibendung satu tanggul di titik terendahnya sehingga akumulasi dari tekanan badan air itu tertampung.

Karakteristik lainnya, yaitu tanggul berada di bagian bawah suatu cekungan sehingga aliran keluarnya seakan rata, tidak mengumpul di salah satu titik saja. Itu relatif aman. Situ dengan tanggul yang dibangun mengelilinginya juga ada. Artinya kalau tanggul lebih tinggi daripada sekitar, itu harus diwaspadai.

Untuk situ yang memang ketinggian air tanahnya lebih tinggi daripada tanah sekitar, apalagi daerah permukiman, harus dievaluasi dan diyakinkan bahwa konstruksi tanggul stabil. Intinya, komponen-komponen tanggul harus dipastikan berfungsi dengan baik. Komponen itu sebenarnya sederhana, tetapi fungsinya harus selalu dimonitor.

Apalagi, yang saya khawatirkan, situ-situ di Jabar genangannya melebar karena sedimentasi sehingga sudah tidak bisa menampung volume air sesuai dengan volume awalnya. Hasilnya, endapan bisa merusak tubuh bendungan karena tingginya tekanan.

Sementara untuk waduk di Jabar, seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling, tanggulnya sudah diperhitungkan terhadap faktor-faktor yang akan dijumpai dalam rentang hidup atau lifetime suatu konstruksi.

Selain itu, pemantauan standar dan canggih juga sudah dilakukan, di antaranya real-time atau bisa dibaca online dengan sistem pusat data tertentu. Sudah dipasang pula sensor sehingga ketika ada retakan 100 cm, lampu merah di pusat kontrol menyala.

Sebagai antisipasi tragedi Situ Gintung, dengan kondisi situ yang ada, langkah apa yang sebaiknya diambil?

Segera lakukan evaluasi meskipun itu secara visual. Saya yakin ahli konstruksi tanggul dengan melakukan walkover menyisir tanggul dan kaki tanggul sudah bisa menilai stabil atau tidaknya tanggul.

Kalau ada indikasi ketidakstabilan sesegera mungkin harus diberi perkuatan seperti ditambah konstruksi tambahan beronjong (tumpukan batu dengan anyaman kawat) sehingga air tetap bisa mengalir, diinjeksi dengan semen, sampai memasang paku kalau memang bendungan kelas berat.

Bagaimana Anda menilai monitoring situ atau bendungan selama ini?

Pemerintah sebaiknya mempunyai sistem database yang jelas. Sampai sekarang saya tidak tahu pasti jumlah situ di Jabar. Database itu akan lebih baik jika bisa diakses oleh masyarakat secara online.

Jika mereka menemukan gejala aneh, mereka bisa melaporkannya. Jadi, tidak mengandalkan petugas pekerjaan umum (PU, di Jabar Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air) untuk menginspeksi. Inspeksi kan mungkin seminggu sekali, tetapi bencana bisa terjadi dalam selang waktu ketika tidak inspeksi. Setiap membangun, pemerintah pasti punya data. Masalahnya apakah data itu diperbarui atau tidak, misalnya jumlah genangannya, perubahan fungsinya, analisis risiko terutama berkaitan dengan perubahan fungsi, dan kerugiannya.

Tentang perubahan fungsi menjadi pariwisata, seperti di Situ Gintung, sebenarnya tidak masalah apabila hanya memanfaatkan kondisi alam. Akan tetapi, kalau ada pembangunan di dalamnya, ini yang jadi masalah.

Sebagai gudangnya ahli, apa sumbangsih ITB untuk Situ Gintung dan operasional bendungan atau situ lain?

Kami sudah menurunkan mahasiswa geologi dan teknik sipil untuk menelitinya. Rencananya, saya akan terjun minggu ini. Kontribusi dari ITB, nantinya memberikan solusi yang diminta entah dari PU atau IAGI.

Untuk bendungan besar, teman-teman ITB selama ini berperan sebagai konsultan, perancang, dan peneliti diajak pemerintah. Dalam pembangunan ataupun ada masalah di waduk-waduk besar, pakar ITB juga turun tangan. Kami melibatkan dari geologi, teknik sipil, serta meteorologi dan klimatologi.

Sementara pemfokusan ke situ ketika ada indikasi bencana. Waktu ada evaluasi revitalisasi fungsi situ-situ di Jabodetabek, ahli dari ITB juga terlibat.

Sumber (http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=67996)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish