2013, BANDUNG KEKERINGAN

fitb.itb.ac.id -Pertumbuhan Kota Bandung dengan bermunculannya bangunan-bangunan baru membawa dampak terhadap persediaan air tanah. Kondisi air tanah tersebut dinilai sudah gawat dan diperkirakan pada tahun 2013, Bandung akan mengalami kekurangan air.

Hal itu dikemukakan pakar geologi, Ir. Lambok M. Hutasoit, yang juga Dekan Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, kepada “PR”, beberapa waktu lalu.

Lambok yang juga Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dalam makalahnya yang berjudul Kondisi Muka Air Tanah Dengan dan Tanpa Peresapan Buatan di Daerah Bandung: Hasil Simulasi Numerik, menyampaikan hasil penelitian yang memperlihatkan kondisi air tanah di Kota Bandung yang terus mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dilakukan dua skenario simulasi, yaitu pertama, pengambilan air tanah terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan industri, tapi tanpa menambah sumur resapan. Kedua, pengambilan air tanah sama dengan skenario pertama, namun dilakukan penambahan resapan dengan peresapan buatan.

Menurut Lambok, kedua skenario itu dilakukan setiap tahun untuk periode 1955-2013. Sedangkan untuk analisis kondisi penurunan muka air tanah (MAT), digunakan kriteria Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 31 Tahun 2006, yaitu zona-zona aman, rawan, kritis, dan rusak, masing-masing dengan penurunan MAT sebesar 40%, 40%-60%, 6O%-8O%, dan 8O%.

Ia menjelaskan, dari hasil numerik skenario pertama menunjukkan hasil, jika tak dilakukan pemulihan air tanah, pada tahun 2013 akan terjadi penambahan zona kritis sebesar 116% dan zona rusak sebesar 570%.

Sumur resapan

Menurut Lambok, ada suatu cara untuk menjaga tersedianya air dalam tanah, yaitu dengan membuat sumur resapan. Ia mencontohkan pembuatan sumur resapan di rumahnya, di Perumahan Cigadung Dago.

Sumur resapan itu, ungkap Lambok, dibuat secara sederhana dengan ukuran satu meter kubik, namun dapat menyerap air hujan dari atap rumahnya seluas tiga ratus meter persegi. “Misalkan, debit curah hujan yang turunnya setiap tahun itu rata-rata dua ribu milimeter, jadi saya telah memasukkan air ke dalam tanah sebanyak enam ratus meter kubik per tahun. Ini bukan jumlah sedikit,” katanya. (A-72)***

fitb.itb.ac.id (Sumber http://pikiran-rakyat.com)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish