Semua Dosen ITB Harus Berpendidikan S-3

Institut Teknologi Bandung (ITB) mensyaratkan pendidikan S-3 untuk seluruh tenaga pengajarnya. Dalam tiga tahun ke depan diharapkan dosen-dosen yang belum meraih gelar doktornya bisa segera menyelesaikannya. Ke depan, ITB hanya akan menerima dosen dengan pendidikan S-3. Demikian disampaikan Rektor ITB Djoko Santoso seusai acara silaturahmi dengan seluruh dosen dan karyawan ITB di Aula Barat, Jln. Ganeca Bandung, beberapa waktu lalu. Dari 1.000 lebih dosen ITB, sekitar 700 di antaranya bergelar doktor. Sisanya, sekitar 30%, masih berpendidikan S-2. Namun, mereka akan mendapatkan bantuan dari ITB berupa voucher pendidikan untuk meraih gelar doktor. Voucher tersebut senilai biaya sekolah S-3.

Menurut Djoko, voucher tersebut dapat digunakan di ITB ataupun di perguruan tinggi lain di Indonesia. “Dosen harus S-3 karena mereka itu sudah mandiri. Secara keahlian juga lebih teruji karena doktor itu arahnya lebih filosofis,” kata Djoko menerangkan.

Djoko tidak khawatir pendidikan S-3 yang disyaratkan ITB membuat dosen yang mengajar sudah tidak produktif. Sebab, kebanyakan pendidikan S-3 baru selesai ketika seseorang mencapai usia kepala empat. “Kenyataannya, sekarang banyak orang muda yang sudah bergelar doktor. Rata-rata usianya di bawah 40 tahun,” katanya.

Minimal S-2

Sementara itu, Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Islam Bandung (Unisba) Edi Setiadi, Jumat (10/10) mengatakan, pada tahun ajaran baru 2009 mendatang, seluruh dosen yang mengajar harus memenuhi syarat pendidikan minimal S-2. Hal itu untuk mendukung Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005 mengenai standar minimal pendidikan pengajar perguruan tinggi yang sudah dilakukan pada akhir 2009.

Untuk itu, Edi mengatakan, saat ini mayoritas dosen Unisba sedang mengejar akselerasi gelar, dengan melanjutkan pendidikan di level S-2 dan S-3. Namun, ia tak mengelak jika masih ada beberapa dosen Unisba yang bergelar S-1. ‘Jumlahnya sedikit, tidak sampai 10%. Mereka adalah dosen senior yang sebentar lagi pensiun. Mereka tidak mungkin diberi beasiswa karena masa mengajar mereka akan habis dalam satu atau dua tahun mendatang,” kata Edi.

Untuk dosen S-1 tersebut, akan dilakukan pengurangan jam mengajar secara bertahap. Bahkan, ada beberapa orang yang akan dipindahkan ke bagian administrasi.

Mengenai beasiswa Unisba untuk pendidikan dosen, Edi mengatakan, setiap tahun Unisba menganut sistem urutan. Dosen yang mendapat beasiswa Unisba sebanyak 20 orang, sedangkan sisanya boleh mencari beasiswa dari instansi lain. Tahun ini, ada 5 orang dosen yang melanjutkan studi magister dan 20 orang dosen yang melanjutkan S-3. Jumlah dosen Unisba 320 orang.

Menurut Edi, peningkatan kualitas dosen tersebut diharapkan juga mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah mahasiswa Unisba. Tahun ini, Unisba menerima 1.500 mahasiswa baru. Sementara tahun lalu hanya 1.400 mahasiswa baru.

Selain itu, pada tahun ajaran baru 2009, Unisba juga menargetkan pendirian 2 program baru, yaitu D-3 Farmasi dan S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Dengan target tersebut, kami akan berupaya supaya kualitas dosen juga meningkat. Peningkatan kualitas dosen merupakan prasyarat terjadinya akselersi peningkatan kualitas universitas,” katanya.

Source (http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish