Bidang Kebumian Kurang Diminati

Meskipun Indonesia termasuk negara berpotensi besar bencana kebumian, seperti gempa bumi dan tsunami, bidang penelitian tersebut sepi peminat. Komunitas peneliti kebumian kesulitan menjaring minat calon peneliti kebumian.

Para peneliti kebumian mengungkapkan hal itu di tengah rangkaian pameran dan unjuk produk penelitian menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) XIII di Jakarta. ”Sedikit peneliti yang tertarik,” kata Direktur Pusat Teknologi Investarisasi Sumber Daya Alam (PTISDA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yusuf S Djajadihardja di Jakarta, Kamis (7/8).

Secara kualitatif, ujar Yusuf, Indonesia membutuhkan banyak peneliti kebumian mengingat potensi dan luasan wilayah Indonesia. Hal senada disampaikan geolog pada Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja. Ia kesulitan mencari mahasiswa yang tertarik menjadi peneliti kebumian.

Secara geografis dan geologis, Indonesia merupakan kawasan yang menantang bagi para peneliti. Khususnya untuk mengetahui riwayat dan potensi bencana kebumian. Secara geografis, Indonesia dikelilingi sabuk vulkanik (ring of fire) yang memicu banyak bencana kebumian.

Miskin data

Selain kurang peneliti dari dalam negeri, Indonesia miskin data sumber gempa dan tsunami. Data tersebut mutlak untuk mengevaluasi efek bencana dan membuat peta bahaya dan risiko bencana. Sejauh ini, potensi gempa dan tsunami banyak dikerjakan di kawasan barat Sumatera.

Padahal, data awal menunjukkan bahwa potensi besar gempa dan tsunami jauh lebih besar di Indonesia timur. ”Proposal penelitian untuk mengumpulkan data gempa selalu ditolak dengan alasan riset dasar. Padahal, itu sangat penting,” kata Danny. Sejauh ini, status Indonesia sebagai negara rentan bencana justru dimanfaatkan para peneliti asing.

Data LIPI menunjukkan, bidang kebumian, keanekaragaman hayati, dan arkeologi-antropologi menjadi tiga besar favorit obyek penelitian. ”Bidang-bidang itulah yang selama ini banyak diminati peneliti asing,” kata Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Neny Sintawardani.

Hingga akhir 2008, semua perizinan peneliti asing dikelola oleh LIPI. Untuk keluar dari persoalan bencana kebumian yang mengancam keselamatan warga, tutur Yusuf dan Danny, dibutuhkan visi dan kemauan politik pemerintah mengembangkan penelitian kebumian. Tidak cukup dengan dorongan semangat tanpa aksi nyata

Sumber (http://cetak.kompas.com/) edisi Jumat 09 Agustus 2008

Berita Terkait

IndonesiaEnglish