Krisis Air Makin Meluas

Kekeringan semakin menjadi-jadi dengan cakupan wilayah kian luas. Beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan bahkan sudah mulai krisis air, baik untuk tanaman padi maupun air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kekeringan tanaman padi pun kian meluas. Kekeringan tanaman padi di Kabupaten Bantul sudah mencapai 180 hektar (ha) dan 119 ha di antaranya puso atau gagal panen. Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanto, Senin (7/7), menyatakan, kerugian ditaksir lebih dari Rp 500 juta.

Untuk mencegah kekeringan lebih luas lagi, pihaknya memberi bantuan 22 unit pompa air. Di Kabupaten Purworejo, 530 ha tanaman padi kekeringan dan 22 ha di antaranya puso. Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya Soni Prayatna, Senin, mengatakan, petani di daerahnya agar menyelamatkan tanaman yang ada dengan berbagai cara.

Tanaman yang masih bisa diselamatkan adalah tanaman yang masih terairi. Adapun krisis air bersih saat ini, misalnya, sudah melanda Kabupaten Kulon Progo dan Kota Palembang. Pengamatan di Kulon Progo, Senin, menunjukkan, air bersih tidak hanya mulai langka di kawasan perbukitan, tetapi juga di sekitar lereng hingga kaki bukit. Masyarakat desa terpaksa harus menghemat penggunaan air.

Akhir Juni lalu, kekeringan melanda Desa Jatimulyo, Purwosari, dan Giripurwo di Kecamatan Girimulyo. Selama sepekan terakhir, kekeringan meluas hingga ke Desa Hargowilis, Hargotirto, dan Hargorejo di Kecamatan Kokap. Paimin (42), warga Dusun Segajih, Desa Hargotirto, menuturkan, debit air yang mengalir dari selang miliknya terus mengecil. Bahkan, tidak jarang aliran air berhenti total sehari penuh. ”Mau tidak mau kami sekeluarga harus hemat air. Aliran yang masuk ke tempayan dipakai untuk masak dan minum.

Kalau mau mandi atau mencuci, kami jalan kaki ke sungai di bawah bukit. Jaraknya sekitar 1 kilometer,” ujar Paimin, Senin. Lebih dari 500 warga yang tinggal di kawasan pinggiran Kota Palembang sejak tiga pekan lalu juga sulit mendapat air bersih, karena sumur telah mengering. Sebagian besar warga miskin harus mengandalkan air dari sumber resapan di rawa-rawa kecil di sekitar rumah mereka.

Warga yang mampu membeli air bersih keliling seharga Rp 4.000 per galon ukuran 20 liter. Krisis air bersih di Palembang terjadi di Kecamatan Sukarami, Sukabangun, dan Jakabaring. Nurahman (45), Ketua RT 12, RT 12 RW 16 Kelurahan Sukabangun I, Sukarami, mengatakan, sekitar 100 keluarga di wilayahnya saat ini sulit mendapatkan air bersih.

Kekeringan ekstrem Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kenten, Palembang, Muhammad Irdham, menjelaskan, sebagian besar kabupaten/kota di Sumsel akan mengalami kekeringan selama Juli hingga Oktober. Irdham menjelaskan, kekeringan di Sumsel ini berskala ekstrem karena indikatornya lebih dari 1.750.

Untuk skala kekeringan rendah indikatornya 0-999, skala sedang 1.000-1.499, dan skala tinggi 1.500-.1750. Kalau lebih dari 1.750, sudah tergolong ekstrem.

Sumber Http://cetak.kompas.com

Berita Terkait

IndonesiaEnglish