Geospasial untuk Pembangunan Aceh

Akibat tsunami pada 26 Desember 2004, Banda Aceh dan kota-kota di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam luluh lantak. Namun, proses pembangunan kembali Aceh di berbagai sektor dapat menjadi model bagi daerah lainnya dalam hal penggunaan data geospasial sebagai acuan.

Hal ini disampaikan Diah Kirana Kresnawati, Kepala Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Selasa (24/6). Akhir Juni ini Kepala Bakosurtanal RW Matindas akan menyerahkan hasil survei dan pemetaan Aceh kepada Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Diah menjelaskan, data geospasial NAD, terutama daerah bencana tsunami, dihimpun Satuan Tugas Geospasial yang diperbantukan Bakosurtanal di Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh sejak tahun 2005. Data tersebut berskala 1 : 5000.

Diah menambahkan, data spasial sangat penting dalam pembangunan. Contohnya, Perancis yang kebijakannya berbasis pada data geospasial dan konsultasi geospasial. Ia berharap di Indonesia setidaknya peta Rupa Bumi Indonesia buatan Bakosurtanal bisa jadi acuan bagi departemen teknis, industri, dan pemerintah daerah untuk peta tematik.

Dengan mengacu pada standar yang sama, dapat dilakukan pertukaran data dan perencanaan pembangunan yang benar. Menurut dia, dari segi ketercakupan, hampir semua wilayah telah memiliki data geospasial, tetapi pemanfaatannya untuk perencanaan pembangunan masih sangat rendah. Data spasial yang dapat digunakan antara lain potensi dan kesesuaian lahan untuk pembangunan pertanian dan perkebunan.

Kurang sosialisasi

Salah satu penyebab rendahnya pemanfaatan data spasial, ujar Diah, adalah kurangnya sumber daya manusia yang menguasai pemanfaatan data itu. Menurut guru Geografi SMA 1 Balikpapan, Marzani, yang telah berpengalaman mengajar selama 23 tahun, kurangnya guru Geografi di daerah menyebabkan pelajaran Geografi disampaikan guru lulusan disiplin ilmu lainnya.

Ia juga melihat siswa yang memilih jurusan geografi juga sangat minim, sekitar 1 persen dari lulusan di sekolahnya. Sementara itu, dalam kunjungannya ke Bakosurtanal kemarin, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menjelaskan, untuk memantau kemajuan pembangunan, dibutuhkan alat bantu penyediaan informasi spasial berbasis Free Open Source Software (FOSS), misalnya pada portal geospasial, serta mendorong semangat riset agar produksi peta Bakosurtanal bisa lebih cepat, akurat, dan terjangkau secara ekonomis.

Banyak bidang butuh memanfaatkan peta, antara lain pariwisata, pengembangan wilayah kerekayasaan, SAR, dan kemiliteran. Pemanfaatannya tergantung dari pemahaman pembaca peta.

Sumber (http://cetak.kompas.com)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish