ITB tidak Membuka Jalur Prestasi

ITB memiliki pendapat yang berbeda dengan universitas lainnya mengenai seleksi masuk bagi siswa berprestasi. Menurut Adang, tidak semua siswa berprestasi bisa langsung masuk ITB. Mereka tetap harus mengikuti ujian seleksi masuk.

“Kami tidak akan menerima secara cuma-cuma hanya karena mereka memiliki prestasi. Karena sudah selayaknya mahasiswa berprestasi tidak hanya dalam satu bidang,” ujar Adang. Siswa berprestasi tersebut hanyalah siswa yang memiliki prestasi dalam bidang akademik. Untuk prestasi lainnya seperti pada bidang seni dan olah raga belum pernah dilakukan ITB. Agaknya FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) telah berniat untuk menyaring siswa berprestasi dalam seni, namun hal itu masih jadi pertimbangan. ITB memiliki standar sendiri untuk menentukan calon sarjananya. Selain berprestasi secara akademik, mahasiswa juga harus matang secara emosional, memiliki tanggung jawab sebagai warga negara, dan hubungan sosial yang baik. “Kami pernah mempunyai pengalaman buruk ketika asal menerima siswa dengan predikat berprestasi. Nyatanya, ia tidak berkelakuan baik dan tidak mau mengikuti prosedur perkuliahan. Dan kami tidak ingin mengulangi hal itu,” kata Adang.

Ia juga mengatakan tidak akan ada kemudahan akademik bagi siswa berprestasi karena ITB telah menyediakan berbagai program beasiswa bagi seluruh mahasiswanya. “Selain pembebasan SDPA bagi siswa berprestasi yang kuliah di ITB, perlakuan kami terhadap semua mahasiswa adalah sama. Semua dijalankan sesuai prosedur perkuliahan standar,”katanya. Sebanyak 32 peserta USM ITB yang dilakukan minggu lalu merupakan siswa berprestasi secara akademik. “Rata-rata dari mereka pernah mengikuti atau terlibat kejuaraan semacam olimpiade sains atau mata pelajaran lainnya,” tutur Adang.

Keringanan SDPA

Dalam kesempatan yang sama, Adang juga menyampaikan mengenai keringanan SDPA dan bahkan pembayaran SPP bagi mahasiswa ITB. Sebanyak 173 orang psesrta USM ITB berasal dari keluarga dengan ekonomi lemah yang didasarkan atas kriteria pekerjaan orang tua seperti guru atau PNS golongan rendah. “Jika lolos, mereka dibebaskan dari pembayaran SDPA. Dan bagi 160 orang lainnya yang kriteria penghasilan orang tuanya sangat rendah. selain dibebaskan SDPA juga diberi kebebasan membayar SPP selama mengikuti perkuliahan di ITB,” ujar Adang.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya (PR, 4/2) tiga perguruan tinggi negeri (PTN), masing-masing Insitut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) merupakan perguruan tinggi pilihan utama para siswa SMA/MA pemenang olimpiade baik sains maupun sosial, event nasional maupun internasional. UI menyediakan jalur khusus bagi para siswa berprestasi tersebut. Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri menuturkan penerimaan mahasiswa baru melalui bantuan pendidikan S-1 bagi siswa peraih medali olimpiade ini merupakan jalur khusus yang diselenggarakan UI. Gumilar Meyakinkan mahasiswa yang mengantongi prestasi juara Olimpiade tingkat nasional dan juara 1 hingga 3 olimpiade internasional bakal mendapatkan berbagai kemudahan dalam menempuh studi di UI.

(Sumber : Koran Pikiran Rakyat Edisi 6 Juni 2008)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish