Titik Takik Bobolnya Danau Bandung

Dalam harian ini, sudah beberapa kali dimuat artikel tentang bobolnya Danau Bandung Purba yang ditulis oleh T. Bachtiar. Tulisan-tulisan itu didasarkan terutama dari makalah ilmiah di Majalah Geologi Indonesia Vol. 17 No. 3 Desember 2002, terbitan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berjudul “Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba tidak Melalui Gua Sangiangtikoro” oleh Budi Brahmantyo, Sampurno, dan Bandono.

Pada makalah itu dibuktikan bahwa Gua Sangiangtikoro yang berelevasi tidak lebih dari 354 m di atas laut rata-rata bukan penyebab bobolnya Danau Bandung Purba. Di balik selatan Gua Sangiangtikoro terdapat dinding alam tinggi dan kokoh yang menjadi penghalang genangan danau purba dengan Sangiangtikoro. Agar danau purba surut, tentunya harus membobol dinding penghalang ini yang menghubungkan puncak-puncak punggungannya yaitu Pasir Kiara 732 m dan Puncak Larang 850 m.

Bagaimanakah mekanisme luar biasa yang bisa membobol dinding keras dari batu breksi vulkanik ini? Jawabannya adalah proses erosi ke arah hulu! Ketika satu sungai kecil yang mengalir di lereng utara dinding ini merambatkan lembah-lembahnya menggerus ke arah lereng atas dinding penghalang, hingga suatu saat ia meloncati puncak punggungan dan menjumpai pantai danau purba, di situlah proses pengeringan mulai terjadi.

Air danau yang tadinya tenang tergenang, menemukan jalan keluar melalui terobosan baru si sungai kecil yang memperpanjang lembahnya ke arah hulu itu. Air danau pun mulai menerjang lembah kecil dan semakin lama semakin menggerus dan menoreh, memperlebar dan memperdalam lembah kecil. Akhirnya ketika proses penorehan lembah berlangsung menerus, terciptalah lembah besar dengan aliran kuat, dan … Danau Bandung Purba pun menemukan jalan untuk mengalirkan airnya ke laut.

Lembah itulah segmen aliran baru Citarum yang mengeringkan danau purba dari sekitar Bendungan Saguling sekarang hingga bertemu kembali dengan alirannya dulu di Cimeta yang sekarang bermuara ke Waduk Cirata. Segmen tersebut meliputi satu lembah sempit yang dikenal dengan Cukang Rahong dan air terjun Curug Halimun. Di antara kedua landmark alam inilah, bukti-bukti pembobolan Citarum dapat dikenali, terutama secara geomorfologis.

Titik Takik Citarum

Sebelum Citarum dibendung di Saguling 1986, aliran sungai pada segmen ini sangatlah luar biasa. Bisa dibayangkan seluruh aliran air Citarum mengalir pada lembah sempit berbatu-batu, menciptakan jeram dan air terjun yang bertingkat-tingkat antara Cukang Rahong dan Curug Halimun. Aliran ini diapit lereng-lereng terjal 60 – 70 derajat baik pada lereng Pasir Kiara di sebelah timur, maupun Puncak Larang di sebelah barat.

Setelah dibendung, sebagian besar air Citarum dialihkan melalui terowongan dan dua pipa pesat untuk memutar turbin di dekat Sangiangtikoro. Setelah putaran energi air ini menghasilkan listrik 700 MW, air kemudian dikembalikan ke saluran asli Citarum di Sangiangtikoro. Akibatnya, segmen sungai antara bendungan hingga Sangiangtioro mengering dan hanya disuplai oleh sungai-sungai kecil, di antaranya oleh Cicacaban dan Cikondang.

Menyusuri segmen yang berair kecil, terutama antara Cukang Rahong dan Curug Halimun, merupakan penjelajahan dasar sungai yang mengasyikan. Bagi saya seorang geolog, batu-batu yang tadinya terendam air sungai dan sekarang tersingkap muncul ke permukaan, menjadi data baru dalam khazanah geologis di wilayah ini. Lapisan-lapisan breksi volkanik, yaitu batuan kasar berbongkah-bongkah yang terikat kompak menjadi masif, berselang-seling dengan batu pasir, dengan lapisan-lapisan yang terlihat jelas, menunjukkan bagaimana struktur batuan ini menjadi penghalang yang sempurna bagi genangan danau purba.

Sebuah cukang yang berarti jembatan bambu, jaman dahulu pernah melintasi satu lembah sempit tetapi dalam di lembah Rahong, sehingga kemudian dikenal sebagai Cukang Rahong. Jembatan ini menjadi penghubung penting transportasi tradisional antara Cililin Bandung ke Ciranjang Cianjur. Jembatan menggantung di atas lembah setinggi lebih kurang 40 m dari dasar lembah yang mempunyai lebar 7 – 8 m saja. Lembah sempit dengan panjang tidak lebih dari 25 – 30 m diapit dengan dinding vertikal dari batu breksi yang keras.

Fenomena lain yang tidak kalah menariknya adalah banyak dijumpainya potholes, yaitu lubang-lubang mirip pot pada batu. Lubang-lubang ini tercipta di dasar sungai ketika mulanya satu lekukan kecil digerus berputar oleh pasir dan kerikil yang semakin lama semakin dalam. Tidak heran jika kita sanggup meraih dasar lubang ini, kita akan banyak jumpai pasir dan kerikil. Beberapa buah lubang mempunyai kedalaman lebih dari dua meter, dengan diameter 1 – 2 m pula, walaupun banyak juga yang kecil dan dangkal.

Selain itu, air terjun dan jeram-jeram yang bertingkat-tingkat menghiasi segmen Citarum yang kehilangan aliran besarnya ini. Sebelum mencapai air terjun terbesar di segmen sungai ini yaitu Curug Halimun, dari arah hulu kita akan jumpai beberapa air terjun kecil.

Curug Hawu dengan tinggi 3 – 5 m adalah jeram tinggi pertama dimana air sungai terjun pada lereng tegak dari lapisan batu breksi. Jika pencapaiannya mudah dari tempat keramaian, niscaya air terjun ini akan menjadi daya tarik wisata. Selain tidak terlalu berbahaya, kolam yang tercipta di bawahnya memberikan tempat bermain air yang bisa menyenangkan.

Begitu pula dengan air terjun berikutnya yaitu Curug Pangulaan yang terbentuk dari jenis batuan yang sama. Tingginya 5 – 6 m, sehingga di sini kita perlu ekstra hati-hati untuk melewatinya. Sekali terpeleset, kita akan terjatuh menggelincir di atas permukaan miring yang keras, kasar dan tajam.

Ke arah hilir, mendekati Curug Halimun, dijumpai beberapa jeram lagi. Jeram-jeram ini sebenarnya lebih merupakan penghalang aliran sungai oleh bongkah-bongkah batu raksasa. Penduduk setempat tidak memberi nama pada jeram-jeram ini, sehingga kami menyebutnya saja dengan Curug Batubuleud karena jeram terjadi dihalangi batu besar membulat, dan Curug Bayawak karena di atasnya dijumpainya seekor biawak besar yang sedang berjemur.

Bongkah-bongkah batu besar yang menghalangi aliran ini seakan-akan berjatuhan dari lereng atas. Semuanya seolah-olah terjadi akibat bencana besar. Bongkah-bongkah besar ini semakin banyak mendekati Curug Halimun. Nah, inilah kemungkinan besar bukti fisik adanya nickpoint atau titik takik.

Titik takik adalah satu titik pada gradien sungai jika kita membuat penampang longtudinal sepanjang alirannya. Sungai normal yang telah mengalir lama dengan mengerosi batuan dasarnya secara proporsional akan memberikan kurva penampang yang melengkung tanpa gangguan. Tetapi sungai yang mengalami gangguan atas alirannya atau akibat pengaruh baru dari sungai yang lain, penampang lengkung gradien sungainya seakan-akan patah atau tertakik.

Titik takik umumnya dikaitkan dengan perubahan aliran sungai akibat proses peremajaan dasar alirannya. Di titik itulah secara geologis ada sesuatu yang mempengaruhi alirannya, bisa akibat adanya patahan, terobosan batuan dari bawah, atau pembajakan aliran oleh sungai lain.

Jika kita membuat penampang gradien sungai mulai dari jembatan Citarum di Rajamanadala hingga Bendungan Saguling, kita akan dapat kurva itu tertakik di sekitar Curug Halimun. Jelas, seperti banyak ditulis buku-buku teks Geomorfologi, adanya air terjun merupakan salah satu bukti titik takik ini.

Di Curug Halimunlah, bukti titik takik pembobolan Danau Bandung Purba melalui pembajakan aliran sungai yang mengerosi ke arah hulu pada dinding penghalang Pasir Kiara – Puncak Larang, terlihat jelas. Curug Halimun yang terjun bebas hampir setinggi 10 – 15 m pada batu breksi, memberikan kesan di sinilah air Citarum tertumpah ruah mengeringkan Danau Bandung Purba.

Setelah dasar sungai yang berat dijelajahi antara Cukang Rahong hingga Curug Halimun karena banyaknya jeram dan bongkah-bongkah besar, aliran sungai ke arah hilir setelah Curug Halimun hingga ke Sangiangtikoro, mempunyai lembah yang tidak “separah” aliran di atasnya.

Sungguh, segmen Cukang Rahong – Curug Halimun di aliran Citarum yang mengering kerena Bendungan Saguling, merupakan kekayaan pusaka alam dan bumi Cekungan Bandung yang tiada taranya. Untungnya pencapaian ke lokasi ini sulit bukan main karena harus menuruni lereng terjal 60 – 80 derajat dan berkedalaman hingga 80 – 100 m (bayangkan pulangnya harus naik seterjal dan setinggi itu pula), sehingga pusaka ini bisa aman asri dan sedikit mengalami gangguan dari orang-orang yang tidak peduli akan kekayaan alam ***

Oleh : Budi Brahmantyo; staf dosen Teknik Geologi, KK Geologi Terapan, FITB, ITB, dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Sumber (http://www.pikiran-rakyat.com)

Berita Terkait

IndonesiaEnglish